Pages

Saturday, 31 May 2014

The Picturesque Belitung

Today is 31 May 2014, and this trip happened exactly two months ago, 29-31 March 2014. Start with a drama of mine, that I almost lost the flight because I had to attend the scholarship group discussion.

I did not concentrate on the group discussion because an edge of my mind calculate the probability to arrive at the airport on time. Fortunately, I made a precise calculation and fast movement so I arrived right after the officers announced it was the boarding time. Lucky me, that I have this traveling group (called BBC), they fully supported me to join the trip and waited for me at the gate of the waiting room. It's always fun having trip with them, because each of them is unique and their actions always lead to big laugh. 

We landed at Tanjung Pandan airport at 11 am, I changed my clothes since it was too formal, then ready to explore Belitung. First place we visit was Pantai Burong Mandi. Actually, it is the most so-so beach in Belitung but compare to several beaches in Bali or Yogyakarta, it is more calm and clean.

After visiting Pantai Burong Mandi, we went to Kwan Im Temple. Unfortunately, it was in renovation so we could not see it in full reddish color, yet we could enjoy sea scenery form this temple, it's wonderful. We didn't take so long there, and decided to go to Andrea Hirata Museum. Andrea Hirata is the native from Belitung who has written many novels based on true story which setting is Belitung, and his books have been translated to many languages. Museum Kata - Andrea Hirata was not the last destination on that day. We went to a school replica that being one important setting in Andrea Hirata's novel.

In front of Dewi Kwan Im Temple


The gate of Museum Kata

One of my fave quote from Andrea Hirata


Took a sip of Belitong Coffee at Museum Kata


On the next day, we did Island Hopping. It was about 5 islands we visited, but I can remember just two of them: Pulau Burong and Pulau Lengkuas, but don't worry it's not because they were bad, but because I lost my memory after two months ;p. 

The unique character of the beaches in Belitung is big stones. The stones make them look tough but beautiful. Don't believe it? Please take a look pictures below:


View from the lighthouse at Lengkuas Island




Clean and calm sea water



with the starfish



You should climb to the 17th floor of the lighthouse to get this view :)
View form the lighthouse at Lengkuas Island




View form lighthouse at Lengkuas Island
Picturesque, right?
Go there and you will find more amazing scenery that I didn't post in this page!

Enjoy the wonderful Indonesia!

Photo courtesy: Pritha, Kara, QQ

Sunday, 4 May 2014

Kejutan 24 Tahun

30 April kemarin aku berusia 24 tahun!

Aaaargghhhh....ini kenapa aku benci ulang tahun! Tambah tua -___-

April tahun ini emang penuh kejutan, mungkin jadi caranya Tuhan bikin aku lebih tua dewasa.

Setelah kejutan kejadian penuh tantangan bersama temen-temen GMB - Ayo Sekolah yang sempet bikin nangis pas sendirian di kamar kost (dan belum bener-bener beres sampe sekarang) eh Tuhan kasih kejutan aku lolos beasiswa LPDP. Bener-bener deh...tapi percaya aja semua pengalaman ini bikin aku berproses jadi lebih baik kalau kata lagu "suka-duka dipakaiNya untuk kebaikanku".

Hal lain yang bikin bulan April spesial adalah tepat tanggal 30 April, aku bersama Ka Rickie, Ka Disi dan Ka Dinda ngisi talkshow di sebuah radio mewakili temen-temen panitia Jambore Sahabat Anak. Spesial karena ini pengalaman pertama...hehe

photc courtesy: Rickie Arliandi

Ternyata kejuatannya ga berakhir di bulan April, tapi nyerempet ke tanggal 1 Mei dan dirayakan oleh demo buruh  Siang-siang lagi di dalam kopaja P20 yang kejebak macet, dapet telepon dari Lizar (salah satu tim GMB - Ayo Sekolah) ngajak meeting ngomongin masalah yang lagi kita hadapin. Otomatis cemas...kira-kira berita macam apa yang akan aku terima. Sore harinya, akhirnya kami ngumpul di bebek Kaleyo Tebet. Selain Kak Dinda yang emang seharian bareng menjalankan tugas panitia Jambore Sahabat Anak, akhirnya Nuzul dan geng Depok alias Lizar, Windy, Naya, Bang Andi nongol di Kaleyo. 

Pertama liat muka Lizar pas dateng udah mules dan ga sabar pengen denger update tentang masalah kita. Tiba lah detik-detik Lizar cerita dengan mukanya yang luar biasa meyakinkan ditambah ekspresi sedih dari temen-temen yang lain. Parah! Dalem hati DEG-DEGAAAN!! Untungnya ga sampe nangis karena emang ga gampang nangis sih ;p Pas lagi dag-dig-dug sambil ngungkapin apa yang dipikirkan tentang masalah ini, tiba-tibaaa...jeng-jeeeenggg..... Bang Andi ngeluarin kue ulang tahun dan mereka semua kasih selamat *fiuuhh....selain kue, aku bersyukur berita yang diceritain Lizar hari itu bohong! Beberapa saat kemudian, si Windy berdiri dari tempat duduk dan pas balik, live band yang bermusik di sana nyanyin lagu ulang tahun buat yang namanya Pida. Sukses banget ngerjainnya, soalnya emang udah kelewat sehari dari tanggal ultah, bikin skenarionya meyakinkan banget...huhu... Aaaah...so sweet banget mereka-mereka ini...sayangnya aku ga bisa bales apa-apaa...

Photo courtesy: Andi Irawan

Thank you Lord for everything! 

Friday, 25 April 2014

Menerjang Batas, Mengejar Impian Lewat Beasiswa

Thanks God, satu impian lagi tercapai. Namun, pencapaian seseorang terhadap suatu hal kadang terlihat seperti gunung es. Kita melihat puncaknya di atas permukaan laut saat orang tersebut berhasil, tapi tidak melihat bagian es yang lebih besar dibawahnya yang justru menjadi penopang si puncak es.

Demikian juga dalam perjuangan mencari beasiswa, sebelum lolos beasiswa LPDP, ada pengalaman-pengalaman tak terlihat sebelumnya. Terlalu panjang untuk diceritakan, namun beriktu poin yang bisa dijadikan pelajaran. 

1. Keep your dream alive. 
Ketika orang-orang di sekitar kita bukan orang yang mendukung mimpi kita, ketika kita sendirian, ketika kadang ada hal lain dalam hidup yang tiba-tiba mendesak dan menuntut menjadi fokus pikiran ketika...ketika itulah kadang mimpi kita meredup. Kita lupa kalau kita punya mimpi. Aku sendiri sempat mengalami ini, tapi aku berusaha tetap menyalakan mimpiku dengan baca buku, ikut komunitas, diskusi, baca blog orang, dll. Pokoknya jangan sampai mimpimu hilang, ini sumber kekuatan utama untuk perjuangan selanjutnya.

2. Start doing something!
Aku suka sebuah quotes dari Johann Wolfgang von Goethe yang aku dapat dari baca buku 'Menerjang Batas, Mengejar Impian' begini bunyinya:

Rebutlah saat ni. Apapun yang bisa Anda lakukan atau Anda mimpikan...MULAILAH! Keberanian mengandung kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban, Lakukan apa saja dan otak Anda akan mulai berputar; mulailah dan pekerjaan itu akan selesai.

Hal selanjutnya yang paling sulit  adalah memulai. Misal mulai cari info beasiswa, mulai kumpulin berkas-berkas untuk apply, mulai bikin essay. Kadang kita terlalu malas saat melihat list berkas-berkas yang harus disubmit. Sikap yang seperti ini yang harus kita matikan. Menurut pengalamanku cari-cari beasiswa, yang terpenting dalam cari beasiswa adalah mulai menyiapkan score TOEFL/IELTS. Tidak ada beasiswa yang tidak butuh score ini. So, sambil kamu cari-cari tentang info beasiswa, kejar referensi, cari universitas, dll kamu juga harus sambil persiapan tes. 


3. Learn form your past failures and others failures
Sebelum lolos LPDP aku gagal di Australia Awards tahun lalu. Aku belajar dari kegagalan tersebut (baca disini). Blog walking juga sangat bermanfaat. Kamu tinggal googling dan baca-baca dari blog orang (contoh: madeandi.com). Tanya-tanya dari narasumber beasiswa yang ingin kamu daftar juga bisa. Aku pernah tanya ke narasumber LPDP dan juga mendengar langsung dari narasumber Australia Awards, dan menemukan 1 kesamaan dalam alasan kegagalan tahap 1: tidak mengumpulkan berkas sesuai persyaratan awal. Misal yang sepele: yang diminta ijazah legalisir, yang dikumpulkan fotocopy ijazah tanpa legalisir. Contoh lain: syarat minimal TOEFL 500, yang dikumpulkan score 495. Jangan buang-buang waktu untuk kesalahan yang sebenarnya sangat bisa kita hindari.

4. Orang-orang terpenting adalah orang yang ada dikiri-kanan mu saat ini (lesson learned dari Gerakan Mari Berbagi)
Aku sudah buktikan beberapa kali kebenaran pernyataan di atas. Di suatu malam bulan Juli 2013, jam sembilan malam sepulang kantor aku ngeprint formulir Australia Awards di sebuah tempat ngeprint di dekat kostan. Ujung mataku melirik ke komputer sebelahku dan ternyata sedang membuka formulir yang sama. Aku dengan pede-nya menegur dan mengajak berkenalan gadis di sebelahku. Namanya Dina. Kami tidak pernah bertemu lagi setelah itu, tapi tetap kontak via whatsapp. Singkat cerita, aku dan Dina tidak lolos Australia Awards, tapi Dina lolos LPDP, sejak itu Dina sangat banyak membantuku dan menyemangatiku untuk apply LPDP. Thanks Dina! Ini juga aku lakukan ketika menunggu masuk ruangan tes IELTS, menunggu giliran beasiswa LPDP, antri di kelurahan. Selalu ada pelajaran dari tiap orang yang melintas dalam hidup kita.

5. Jangan pelit berkorban. Ada harga yang harus dibayar!
Aku berkorban banyak waktu, tenaga, pikiran, dan dana untuk mempersiapakan ini. Les IELTS waktu itu cukup mahal buatku, begitu juga dengan testnya. Ada orang yang saya kenal beberapa saat sebelum masuk ruang tes IELTS yang ternyata sudah 4x test demi mendapat score untuk beasiswa. Bertemu dengan orang tersebut jadi penyemangat juga bahwa aku bukan orang nekat satu-satunya yang berjuang. Ikut les IELTS waktu itu adalah keputusanku dan aku anggap itu investasi. Harus berhemat uang jajan dan bahkan waktu itu sempat berhenti bekerja. Those were the risks I decided to take. Aku juga keluar dari kantor, karena aku akan ditugaskan ke daerah dalam waktu yang cukup lama, yang berarti menghalangiku untuk mengurus beasiswa ini. Tapi itu bukan rumus baku, kalian bisa saja tidak les tapi mendapat score TOEFL/IELTS bagus  atau bisa mengurus semua berkas beasiswa walaupun kalian sedang di daerah lain dengan cara -cara yang lebih kreatif.

6. Technical Tips
Berikut ini beberapa tips yang bisa aku share dari pengalamanku persiapan LPDP, yang sebenernya juga bisa diterapkan di semua beasiswa
  • Persiapan tes TOEFL atau IELTS, kalau kamu ga punya waktu atau dana untuk les, kamu bisa Googling dan download aja ebooknya dari internet. Ada banyak kok. Kamu juga bisa pinjam buku dari kenalanmu yang sudah tes TOEFL/IELTS minta dia ceritakan alur tes dan gambaran tesnya termasuk waktu yang diberikan untuk tiap section test. Untuk persiapan IELTS writing, aku membaca essay-essay IELTS dan mencatat istilah-istilah yang belum aku ketahui di sebuah notes kecil yang aku baca waktu istirahat di kantor, antri transjakarta, dan aku coba pakai ketika menulis. Kelemahan ku adalah speaking, untuk melatih ini aku minta seorang teman menginap dikostan untuk membantuku. Sebelumnya, puluhan topik pertanyaan IELTS sudah ku download dari internet. Tiap tes ada limit waktunya. Setelah pelajari teorinya, bersimulasilah dengan waktu. Hm, dulu aku sempat rendah diri menganggap aku tidak pintar seperti teman-teman lain yang sepertinya gampang mendapat score tinggi. Untuk memotivasi diri sendiri untuk belajar bahkan aku menempelkan tulisan ini di kamar (masih ada sampai sekarang) ;p
  • Sambil persiapan Bahasa Inggris, buat list strategi yang mesti dilakukan. Misal: hubungi dosen A untuk surat rekomendasi, kontak bagian akademik kampus untuk legalisir ijazah, kontak pengurus organisasi untuk minta sertifikat/surat keterangan, dll. Dulu aku juga punya 1 folder list daftar beasiswa baik yang full funded atau pun partial beserta semua deadline dan persyaratannya. Ini sangat membantu memilih beasiswa mana yang sesuai dengan kebutuhan dan resources yang aku punya.
  • Ketika apply beasiswa LPDP, kamu akan diminta membuat 2 essay: Apa Sukses Terbesar dalam Hidupku, dan Peranku untuk Indonesia. Menulislah dengan hati. Ceritakan apa yang sudah kamu lakukan dan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Ketika kamu melakukan tahap ini dengan hati, kamu akan sangat mudah melalui tahap wawancara. Proses menulis essay ini juga membuat aku menyadari kembali bahwa aku pernah berhasil meraih 1 mimpiku dan kali ini pun aku yakin aku bisa. Ketika menulis peranku untuk Indonesia, aku seperti sedang menguji apakah aku sedang dan akan hidup hanya untuk diri sendiri atau aku akan hidup untuk hal yang lebih besar. Semoga orang-orang yang mendapat beasiswa juga adalah orang-orang yang bukan memikirkan diri sendiri, karena orang-orang yang hanya mikirin ambisi pribadi lah yang merusak dunia ini.
  • Konsultasi dengan orang lain. Manfaatkan segala resource yang ada. Bisa tanya-tanya teman, senior, kenalan, saudara atau siapapun yang sudah lolos. Tapi ingat! Mereka juga punya urusan dan masalah sendiri. Ketika mereka lama membalas pertanyaan kita, kita yang harus bersabar. Oh ya, ada 1 forum yang mungkin juga bisa dimanfaatkan: Indonesia Mengglobal
  • Kamu bisa apply LPDP kapanpun, tapi dalam setahun ada 4 kali seleksi: Maret, Juni, September, Desember bisa disesuaikan dengan bulan apa kamu akan kuliah. Kemarin aku apply pertengahan Maret, wawancara tanggal 28-29 Maret, dan mendapat pengumuman lolos tanggal 22 April.
  • Semua info detail tentang LPDP ada di website http://www.lpdp.depkeu.go.id/. Sangat detail dan lengkap so, I will not write it down here. Please read :)
Well, itu sharing dariku dan selamat berjuang untuk untuk teman-teman yang sedang berjuang mendapat beasiswa! You can get it!


*Tulisan ini aku dedikasikan untuk Bang Azwar Hasan dan keluarga GMB yang menjadi katalisatorku mencapai beasiswa ini.

Thursday, 10 April 2014

Nasionalisme di Kantor Lurah

Kejadian kecil yang berhasil membakar rasa optimis saya.

Kemarin (9 April), saya (yang hampir saja golput) memutuskan berangkat ke kantor kelurahan (lagi) setelah malam harinya dimarahi oleh petugas DPT di kantor lurah karena datang kemalaman (jam 18.50an) dan pengurusan keterangan domisili untuk pemilih tambahan sudah tutup.

Pagi hari sekitar pukul 9 saya kembali ke kantor lurah. Ditemani abang tukang ojek dekat kostan, saya keliling-keliling yang rutenya dari kostan - 15 meter sebelum kantor lurah (terpaksa harus putar balik karena ada TPS) - masuk jalan sempit penduduk (lalu ada ibu-ibu bilang semua akses ketutup TPS) - ke depan kostan lagi - muter lewat jalan kecil - akhirnya sampai ke kantor lurah *fiuhh

Saya buru-buru naik ke lantai 3 kantor kelurahan Karet Kuningan, dan mendapati sudah banyak orang mengantri di sana. Ternyata saya tidak sendiri. Mereka semua mau mengurus form A-5 agar bisa ikut memilih di pileg kali ini. Di depan saya, Ezra (baru kenalan di tempat) berasal dari Medan, ternyata anak kostan juga. Di belakang kami ibu-ibu keturunan Tionghoa bersemangat mengantri sambil membuka website kpu.go.id untuk mencari TPS asalnya. Informasi ini penting untuk mengisi form A-5. Selain kami bertiga di sekitar kami banyak bapak-bapak, wanita setengah baya, seorang wanita yang dari perawakannya sudah punya cucu, dan tentu anak-anak muda. Kalau saya perkirakan mungkin ada 40an orang yang mengantri di ruangan tersebut. Belum lagi yang sudah selesai mengurus form A-5 sebelum saya tiba.

Wah, banyak juga ya orang-orang yang masih peduli dengan bangsa dengan memperjuangkan hak pilihnya.

Sambil mengantri, seorang laki-laki paruh baya bilang "semoga 5 tahun lagi, dengan e-ktp kita tidak perlu antri lama. Scan e-ktp lalu langsung keluar kartu pemilih, dimanapun bisa langsung milih". 

"Amin ya Pak!" sambut ibu-ibu keturunan Tionghoa. "Tapi, saya di daerah asal belum dapat e-ktp, padahal 4 anggota keluarga lain sudah semua. Saya akan urus lagi sih"

Ya ampun, optimis banget orang-orang ini. Saya jadi terharu dalam hati. Walau pun ada teguran kepada beberapa anak muda yang tidak disiplin mengantri dan duduk-duduk di sisi lain ruangan padahal temannya yang lain sedang  mengantri untuk mereka, tidak ada yang mengeluh soal capek mengantri . Juga soal e-ktp yang belum didapat, si Ibu malah berkenan mengurus lagi. Beberapa orang terlihat cemas saat browser HPnya tidak bisa membuka website KPU, namun yang lain tidak diam. Kami saling bantu mencarikan lewat HP sendiri agar semua bisa langsung dapat form A5. Semua orang dalam ruangan itu tampaknya sejenak melupakan hal-hal negatif dari pemerintahan sekarang. Berpikir positif dan memperjuangkan menit-menit terakhir sebelum jatah mencoblos tiba (saat itu pukul 10an dan jatah mencoblos untuk pemilih tambahan hanya mulai jam 12-13 siang). 

Semoga harapan yang dibawa tiap orang yang saya temui di kelurahan waktu itu terwujud!

Salut untuk kebijakan surat domisili dan form A5 yang sudah dimulai walaupun belum sempurna. Semoga pilpres nanti semakin baik dan semakin banyak juga yang berpikir positif seperti Ibu dan Bapak yang saya temui.




Monday, 7 April 2014

Negeri Para Bedebah & Negeri di Ujung Tanduk

Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk, karangan Tere Liye ini rasanya pas sekali dibaca menjelang masa-masa pemilu seperti ini. Ini adalah 2 buku pertama Tere Liye yang saya baca (ketinggalan banget ya!) dan menemukan bahwa saya terbawa sensasi yang diceritakan dalam novel ini.
source

Negeri Para Bedebah adalah judul pertama dari sekuel ini, diceritakan dari sudut pandang Thomas si Aku anak muda cerdas, tampan, dan berkarakter. Secara profesional Thomas bekerja sebagai konsultan keuangan dan memiliki hobi beradu tinju. Namun, justru dari hobi anehnya itulah terbentuk karakter petarung sejati dalam dirinya.

Beberapa teman bilang bahwa dengan membaca buku ini, kita jadi lebih paham mengenai perekonomian khususnya tentang bail-out Bank Century yang sempat panas di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Walaupun fiktif, Tere Liye berhasil menguraikannya dengan menarik dan membawa pembaca seolah-olah memahami dan menyetujui penyelamatan bank bermasalah tersebut. 

Di Negeri Para Bedebah, konflik yang menjadi sorotan utama adalah mengenai pembebasan Bank Semesta yang bermasalah, sedangkan di novel Negeri di Ujung Tanduk, yang menjadi konflik utama adalah mengenai mantan Gubernur ibukota menjadi calon presiden. Perbedaan lainnya, di novel kedua ini, Thomas si pemeran utama bertambah profesi sebagai konsultan politik. Kedua novel ini juga memiliki kesamaan yaitu cerita di dalam novel terjadi dalam sekitar 3 hari. Membuat pembaca ikut deg-degan berpacu dengan waktu.

Selain alur yang membuat tegang dan penasaran akan keajaiban apa yang akan terjadi, saya menyukai karakter Opa dalam cerita ini. Opa si orang tua yang bijaksana, santai, namun kadang menyebalkan selalu berhasil membuat saya sedikit rileks setelah terbawa detik-detik mendebarkan di dalam alur cerita. Tokoh favorit lain, Maggie, si sekertaris Thomas yang berpikir sangat cerdas dan bertindak sangat cepat. Hasil kerjanya sangat memukau. Mungkin julukan yang tepat adalah super-steno-woman.

source
Tidak perlu khawatir berpikir teralalu berat ketika membaca, cerita ini juga diselingi adegan dan percakapan lucu ditengah adegan menegangkan. Selain itu, yang menjadi keunikan cerita dari sekuel ini, saya lebih sulit menebak siapa orang baik yang akan menolong Thomas dibandingkan siapa orang jahatnya.

At the end, saya selalu suka dengan quote-quote bagus yang ada di dalam buku, fiksi sekalipun, dan ini lah yang menjadi favorit saya dari kedua buku ini:

"Melakukan perjalanan, bertemu banyak orang, membuka diri, mengamati, mencoba sendiri, memikirkan banyak hal adalah cara tercepat belajar" (tokoh Opa dalam Negeri Para Bedebah)

"Sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal: suhu dan tekanan tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya. Jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya" (tokoh Kakek Lee dalam Negeri di Ujung Tanduk)

Hmm, setelah membaca kedua buku ini, saya jadi tertarik untuk membaca bukunya yang lain :)

Friday, 7 March 2014

Berbagi dalam Kekurangan

sebelumnya di Youth Adventure....

Setelah bermalam di Pesantren, kami berjalan kaki ke terminal Jombor untuk melanjutkan perjalanan ke Purworejo. Sesampainya di terminal Jombor, ternyata tidak ada bus langsung yang berangkat dari sana ke Purworejo. Berkat saran dari Pak Margi, sang pengurus terminal, kami akhirnya menyambung bus ke Pasar Gamping.

Sesampainya di pasar Gamping, kami sepakat untuk tidak langsung berangkat ke Purworejo, tetapi mencari modal dulu dengan berjualan baju balita yang dibekali oleh panitia sebelum kami dilepas. Aulia dan Airlangga berkeliling pasar, sementara aku bertugas menjaga tas-tas kami yang berisi baju untuk 10 hari.

Aku menghamparkan 1 baju balita di atas tas kami, berharap sambil menunggu ada Ibu-ibu yang tertarik untuk membeli. Benar saja, seorang ibu penjual buah naga yang duduk di seberangku menghampiri, dan bertanya. Setelah menjelaskan panjang lebar kenapa kami perlu uang, si Ibu berusaha menawar lebih murah dari harga yang kami berikan. Aku sebenarnya kasihan juga dengan si Ibu dan tidak berani meminta ia membeli. Yah, diajak ngobrol aja deh, dari pada bengong nungguin tas. Cerita punya cerita, ternyata kehidupan si Ibu udah mirip sinetron (istilah ini keluar dari si Ibu sendiri). Si Ibu dari keluarga miskin, lalu anaknya menikah dengan anak orang kaya. Setelah pernikahan anaknya, si keluarga besan meremehkan dan menginjak-injak si Ibu. Suami si Ibu juga sudah meninggal karna sakit. Walaupun begitu, si Ibu bersyukur bisa melalui yang ia sebut sebagai ujian hidup itu. Sekarang, keluarga besannya sudah lebih baik. Si Ibu juga bercerita, kalau kemarin ia tidak berjualan karena ada tetangganya yang meninggal sehingga buah naga yang seharusnya dijual kemarin belum terjual.

Beberapa waktu kemudian, Airlangga dan Aulia kembali ke tempatku. Airlangga menjelaskan kalau kami harus mengembalikan modal panitia sebesar Rp.15.000 jadi kalau di jual Rp.20.000 sebenarnya kami hanya dapat uang Rp. 5000. Si Ibu terlihat ragu-ragu tapi tetap saja memegang baju itu.

“Saya ga punya anak kecil sih, anak ponakan saya juga ga tau ini muat apa ngga.” Sebenarnya, si Ibu tidak benar-benar butuh baju itu. Namun, akhirnya si Ibu mengeluarkan uang Rp. 20.000 dan kami sangat senang (bercampur rasa segan juga sih karena tahu jualan si Ibu yang kemarin belum laku). Si Ibu bilang, “Saya ngebayangin, anak saya di sana juga dibantu orang”. Si Ibu, lalu dengan semangat menawari kami makan buah naga yang ia jual. “Ga papa kok, ambil aja! Beneran dek, ambil aja. Buahnya masih banyak kok!” Dengan sangat segan, akhirnya kami mencicip buah naganya. Satu buah dibagi 3. Enak sekali! Setelah makan buah naga, Aulia dan Airlangga kemudian kembali berkeliling pasar dan aku kembali ngobrol dengan si Ibu.

“Yah, itulah ujian hidup ya. Anak saya dulu berhenti kuliah, dan kerja di Papua. Waktu balik baru lanjutin lagi.” Si Ibu bercerita tentang anak pertamanya.

“Keren dong Bu! Sekarang udah kerja di Newmont!” aku berusaha menghibur.

“Iya, yang satu ga kerja, tapi usaha bikin batako di rumah” lanjut si Ibu.

“Loh, itu kan juga kerja Bu. Usaha sendiri, hebat lagi sudah punya anak buah.” Aku dalam hati bersyukur, anak-anak Ibu ini ternyata juga pejuang hidup yang tangguh.

Hari sudah menunjukkan pukul  sebelas siang, si Ibu harus pulang ke rumah untuk memasak. Ibu memberikan 5 buah naga yang besar-besar secara paksa. Ya ampun Ibu ini, pikirku untuk dapat dua puluh ribu rupiah, mungkin Ibu ini harus menjual beberapa buah naganya, dan itu tidak gampang. Di seberang pasar umum ini ada sebuah pasar khusus buah yang menjual buah naga jauh lebih murah dan kualitasnya bagus. Orang yang berbagi karena dia berkecukupan itu biasa, tapi si Ibu berbagi ditengah kekurangannya. Dari Ibu Sulartini, si penjual buah naga, kami belajar bahwa kekurangan bukan alasan untuk tidak berbagi.

Terima kasih Bu Sulartini!



Thursday, 6 March 2014

Pelajaran di Balik Sesi Critical Thinking

Sebelum kegiatan di Youth Adventure!Youth Leaders Forum 2014, selama 3 minggu sampai H-1 berangkat ke Yogya, saya mendapat tugas kantor ke salah satu daerah di Kalimantan Tengah. Setiap kali melihat update tugas di website Gerakan Mari Berbagi, saya agak stres karena takut tidak bisa mengerjakannya ditengah-tengah tugas lapangan saya. Selama 3 minggu tersebut, saya biasa kembali ke mess dalam kondisi lelah sekitar pukul 10 malam, sementara lampu padam setiap jam 12 malam hingga pukul 4 pagi.

Walaupun stres, bagian lain dari otak  saya sangat tertarik dengan semua tugas yang diberikan sejak awal pendaftaran, misalnya essay pendapat mengenai 2 buah artikel, membuat proposal giving back program. Bahkan setelah lolos seleksi,  tugas menulis dan tugas membaca masih saja bertambah sampai seminggu sebelum hari H acara Youth Adventure! Youth Leaders Forum 2014.

Salah satu tugas yang diberikan menjelang hari H adalah membaca novel berjudul Anthem, karya Ayn Rand dan menjawab beberapa pertanyaan yang  diberikan oleh Inspiring Leaders untuk sesi Critical Thinking. Setelah perjuangan mencicil membaca e-book Anthem lewat layar HP dan disela-sela waktu perjalanan ke lapangan, akhirnya saya berhasil menyelesaikan novel yang ternyata sangat menarik tersebut dan dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Sebenarnya saya sendiri tidak percaya diri dengan jawaban yang saya berikan, bahkan saya malah balik mempertanyakan makna pemberian nama tokoh di novel tersebut. Saya sudah bayangkan pasti jawaban teman-teman yang lain sangat keren. Saya pikir ”ah, ini kan proses pembelajaran, harus dinikmati."

Tiga minggu berlalu, saya izin pulang dinas lebih dulu dibanding tim yang lain. Saya berangkat ke Yogya, mengikuti rangkaian program dan akhirnya tiba di hari H dimana sesi Critical thinking diberikan. Kak Reslian Pardede dibantu Kak Dede Prabowo menjadi Inspiring Leaders di sesi ini. Di awal sesi, Kak Lian membacakan 2 tulisan teman-teman yang dianggap bagus dan mengonfirmasi isi jawabannya. Wah, keren-keren sekali tulisan mereka. Ah, sudah lah! Tulisan saya sepertinya tidak akan masuk ke dalam kategori baik, berhubung mengerjakannya di dalam kondisi yang kurang mendukung.

Kak Lian kemudian hampir masuk ke dalam materi yang sudah ia persiapkan, namun sesaat sebelum itu, ia membacakan salah satu jawaban saya sebagai pengantar masuk ke dalam materi. Senangnya bukan main! Hehehe…Serius, saya ga menyangka…sepanjang sesi, saya berefleksi. Ternyata benar yang disering di katakan Bang Az (Inisiator Gerakan Mari Berbagi), kira-kira begini  “Berbuatlah yang terbaik dalam tiap detik hidup dan ikhlas! Bonus lain belakangan!”. Mungkin kondisi saya waktu mengerjakan tugas bukanlah kondisi yang baik, tapi itulah hasil dari usaha terbaik yang bisa saya berikan di kondisi tersebut dan saya berusaha mengerjakannya dengan senang hati.

Di akhir sesi, Kak Lian dan Kak Dede ternyata membawa oleh-oleh buku karya Ayn Rand lainnya. 1 orang teman mendapat buku asli “Anthem”, 1 orang mendapat “The Fountainhead”, dan saya mendapat buku yang kabarnya adalah Ayn Rand's masterwork yang berjudul “Atlas Shrugged”. Rasa senangnya masih terasa sampai sekarang. Mungkin karena saya sangat suka buku, dan di hari itu secara tak terduga mendapat 2 buah buku (1 buku dari sesi lainnya), selain itu saya juga baru saja tertarik dengan Ayn Rand. Di luar itu, pelajaran terpenting yang saya dapat adalah ketulusan dalam mengerjakan segala sesuatu. Sejak sesi itu berakhir, saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak mengeluh terhadap tugas apapun. Walaupun tidak suka, harus tetap berusaha mengerjakannya dengan kemampuan terbaik yang saya bisa dan ikhlas. Masalah hasilnya ternyata lebih jelek dibanding orang lain, toh itu juga akan jadi proses pembelajaran kan?

Thanks to Kak Lian and Kak Dede!