Pages

Showing posts with label Gerakan Mari Berbagi. Show all posts
Showing posts with label Gerakan Mari Berbagi. Show all posts

Wednesday, 23 July 2014

Celengan Matthew

Well! 23 Juli 2014. Hari yang boleh dibilang spesial. Tadi malam, Komisi Pemilihan Umum menetapkan kemenangan Jokowi - JK sebagai pasangan presiden-wakil presiden terpilih yang akan memimpin Indonesia 5 tahun kedepan. Ada hal lain yang juga spesial di hari ini. Indonesia merayakan Hari Anak Nasional.

Ngomong-ngomong soal Hari Anak Nasional, saya teringat kejadian 9 Juli yang lalu saat saya main ke rumah tante saya. Adalah Matthew (5 tahun), ponakan saya (anak dari sepupu) yang juga sedang di sana. Ketika berkumpul di ruang keluarga, saya melihat ada celengan kecil yang ditempeli foto seorang anak. 

Lalu saya bertanya kepada Matthew, "Matthew, ini apa?"

Matthew menjawab, "Ini ada anak-anak sakit, mulutnya ditutup, tidak boleh dilihat karena berdarah. Nantulang, minta uang  untuk bantu dia."

Saya antara mau tertawa tapi juga terharu. Wah, kreatif juga cara guru Matthew di sekolah mengajarkan bagaimana berbagi dengan sesama. Bukan hanya sekedar berbagi, Matthew yang mengajak orang dewasa lain untuk ikut membantu, juga bisa membuat orang yang diajak malu jika tidak mau berbagi, dan semoga jadi pelajaran juga bahwa anak kecil saja berbagi apalagi kita yang sudah dewasa. Selain belajar berbagi, metode ini juga mengajarkan anak untuk berani dan persuasif. 

Anak-anak itu...
bisa menjadi penggerak orang dewasa.
Dari mereka, kita bisa belajar.
Kepada mereka, kita bisa menginvestasi nilai-nilai yang positif.

Selamat Hari Anak Nasional!

*gaya tanpa direkayasa, otomatis salam 2 jari ;p



Sunday, 4 May 2014

Kejutan 24 Tahun

30 April kemarin aku berusia 24 tahun!

Aaaargghhhh....ini kenapa aku benci ulang tahun! Tambah tua -___-

April tahun ini emang penuh kejutan, mungkin jadi caranya Tuhan bikin aku lebih tua dewasa.

Setelah kejutan kejadian penuh tantangan bersama temen-temen GMB - Ayo Sekolah yang sempet bikin nangis pas sendirian di kamar kost (dan belum bener-bener beres sampe sekarang) eh Tuhan kasih kejutan aku lolos beasiswa LPDP. Bener-bener deh...tapi percaya aja semua pengalaman ini bikin aku berproses jadi lebih baik kalau kata lagu "suka-duka dipakaiNya untuk kebaikanku".

Hal lain yang bikin bulan April spesial adalah tepat tanggal 30 April, aku bersama Ka Rickie, Ka Disi dan Ka Dinda ngisi talkshow di sebuah radio mewakili temen-temen panitia Jambore Sahabat Anak. Spesial karena ini pengalaman pertama...hehe

photc courtesy: Rickie Arliandi

Ternyata kejuatannya ga berakhir di bulan April, tapi nyerempet ke tanggal 1 Mei dan dirayakan oleh demo buruh  Siang-siang lagi di dalam kopaja P20 yang kejebak macet, dapet telepon dari Lizar (salah satu tim GMB - Ayo Sekolah) ngajak meeting ngomongin masalah yang lagi kita hadapin. Otomatis cemas...kira-kira berita macam apa yang akan aku terima. Sore harinya, akhirnya kami ngumpul di bebek Kaleyo Tebet. Selain Kak Dinda yang emang seharian bareng menjalankan tugas panitia Jambore Sahabat Anak, akhirnya Nuzul dan geng Depok alias Lizar, Windy, Naya, Bang Andi nongol di Kaleyo. 

Pertama liat muka Lizar pas dateng udah mules dan ga sabar pengen denger update tentang masalah kita. Tiba lah detik-detik Lizar cerita dengan mukanya yang luar biasa meyakinkan ditambah ekspresi sedih dari temen-temen yang lain. Parah! Dalem hati DEG-DEGAAAN!! Untungnya ga sampe nangis karena emang ga gampang nangis sih ;p Pas lagi dag-dig-dug sambil ngungkapin apa yang dipikirkan tentang masalah ini, tiba-tibaaa...jeng-jeeeenggg..... Bang Andi ngeluarin kue ulang tahun dan mereka semua kasih selamat *fiuuhh....selain kue, aku bersyukur berita yang diceritain Lizar hari itu bohong! Beberapa saat kemudian, si Windy berdiri dari tempat duduk dan pas balik, live band yang bermusik di sana nyanyin lagu ulang tahun buat yang namanya Pida. Sukses banget ngerjainnya, soalnya emang udah kelewat sehari dari tanggal ultah, bikin skenarionya meyakinkan banget...huhu... Aaaah...so sweet banget mereka-mereka ini...sayangnya aku ga bisa bales apa-apaa...

Photo courtesy: Andi Irawan

Thank you Lord for everything! 

Friday, 7 March 2014

Berbagi dalam Kekurangan

sebelumnya di Youth Adventure....

Setelah bermalam di Pesantren, kami berjalan kaki ke terminal Jombor untuk melanjutkan perjalanan ke Purworejo. Sesampainya di terminal Jombor, ternyata tidak ada bus langsung yang berangkat dari sana ke Purworejo. Berkat saran dari Pak Margi, sang pengurus terminal, kami akhirnya menyambung bus ke Pasar Gamping.

Sesampainya di pasar Gamping, kami sepakat untuk tidak langsung berangkat ke Purworejo, tetapi mencari modal dulu dengan berjualan baju balita yang dibekali oleh panitia sebelum kami dilepas. Aulia dan Airlangga berkeliling pasar, sementara aku bertugas menjaga tas-tas kami yang berisi baju untuk 10 hari.

Aku menghamparkan 1 baju balita di atas tas kami, berharap sambil menunggu ada Ibu-ibu yang tertarik untuk membeli. Benar saja, seorang ibu penjual buah naga yang duduk di seberangku menghampiri, dan bertanya. Setelah menjelaskan panjang lebar kenapa kami perlu uang, si Ibu berusaha menawar lebih murah dari harga yang kami berikan. Aku sebenarnya kasihan juga dengan si Ibu dan tidak berani meminta ia membeli. Yah, diajak ngobrol aja deh, dari pada bengong nungguin tas. Cerita punya cerita, ternyata kehidupan si Ibu udah mirip sinetron (istilah ini keluar dari si Ibu sendiri). Si Ibu dari keluarga miskin, lalu anaknya menikah dengan anak orang kaya. Setelah pernikahan anaknya, si keluarga besan meremehkan dan menginjak-injak si Ibu. Suami si Ibu juga sudah meninggal karna sakit. Walaupun begitu, si Ibu bersyukur bisa melalui yang ia sebut sebagai ujian hidup itu. Sekarang, keluarga besannya sudah lebih baik. Si Ibu juga bercerita, kalau kemarin ia tidak berjualan karena ada tetangganya yang meninggal sehingga buah naga yang seharusnya dijual kemarin belum terjual.

Beberapa waktu kemudian, Airlangga dan Aulia kembali ke tempatku. Airlangga menjelaskan kalau kami harus mengembalikan modal panitia sebesar Rp.15.000 jadi kalau di jual Rp.20.000 sebenarnya kami hanya dapat uang Rp. 5000. Si Ibu terlihat ragu-ragu tapi tetap saja memegang baju itu.

“Saya ga punya anak kecil sih, anak ponakan saya juga ga tau ini muat apa ngga.” Sebenarnya, si Ibu tidak benar-benar butuh baju itu. Namun, akhirnya si Ibu mengeluarkan uang Rp. 20.000 dan kami sangat senang (bercampur rasa segan juga sih karena tahu jualan si Ibu yang kemarin belum laku). Si Ibu bilang, “Saya ngebayangin, anak saya di sana juga dibantu orang”. Si Ibu, lalu dengan semangat menawari kami makan buah naga yang ia jual. “Ga papa kok, ambil aja! Beneran dek, ambil aja. Buahnya masih banyak kok!” Dengan sangat segan, akhirnya kami mencicip buah naganya. Satu buah dibagi 3. Enak sekali! Setelah makan buah naga, Aulia dan Airlangga kemudian kembali berkeliling pasar dan aku kembali ngobrol dengan si Ibu.

“Yah, itulah ujian hidup ya. Anak saya dulu berhenti kuliah, dan kerja di Papua. Waktu balik baru lanjutin lagi.” Si Ibu bercerita tentang anak pertamanya.

“Keren dong Bu! Sekarang udah kerja di Newmont!” aku berusaha menghibur.

“Iya, yang satu ga kerja, tapi usaha bikin batako di rumah” lanjut si Ibu.

“Loh, itu kan juga kerja Bu. Usaha sendiri, hebat lagi sudah punya anak buah.” Aku dalam hati bersyukur, anak-anak Ibu ini ternyata juga pejuang hidup yang tangguh.

Hari sudah menunjukkan pukul  sebelas siang, si Ibu harus pulang ke rumah untuk memasak. Ibu memberikan 5 buah naga yang besar-besar secara paksa. Ya ampun Ibu ini, pikirku untuk dapat dua puluh ribu rupiah, mungkin Ibu ini harus menjual beberapa buah naganya, dan itu tidak gampang. Di seberang pasar umum ini ada sebuah pasar khusus buah yang menjual buah naga jauh lebih murah dan kualitasnya bagus. Orang yang berbagi karena dia berkecukupan itu biasa, tapi si Ibu berbagi ditengah kekurangannya. Dari Ibu Sulartini, si penjual buah naga, kami belajar bahwa kekurangan bukan alasan untuk tidak berbagi.

Terima kasih Bu Sulartini!



Thursday, 6 March 2014

Pelajaran di Balik Sesi Critical Thinking

Sebelum kegiatan di Youth Adventure!Youth Leaders Forum 2014, selama 3 minggu sampai H-1 berangkat ke Yogya, saya mendapat tugas kantor ke salah satu daerah di Kalimantan Tengah. Setiap kali melihat update tugas di website Gerakan Mari Berbagi, saya agak stres karena takut tidak bisa mengerjakannya ditengah-tengah tugas lapangan saya. Selama 3 minggu tersebut, saya biasa kembali ke mess dalam kondisi lelah sekitar pukul 10 malam, sementara lampu padam setiap jam 12 malam hingga pukul 4 pagi.

Walaupun stres, bagian lain dari otak  saya sangat tertarik dengan semua tugas yang diberikan sejak awal pendaftaran, misalnya essay pendapat mengenai 2 buah artikel, membuat proposal giving back program. Bahkan setelah lolos seleksi,  tugas menulis dan tugas membaca masih saja bertambah sampai seminggu sebelum hari H acara Youth Adventure! Youth Leaders Forum 2014.

Salah satu tugas yang diberikan menjelang hari H adalah membaca novel berjudul Anthem, karya Ayn Rand dan menjawab beberapa pertanyaan yang  diberikan oleh Inspiring Leaders untuk sesi Critical Thinking. Setelah perjuangan mencicil membaca e-book Anthem lewat layar HP dan disela-sela waktu perjalanan ke lapangan, akhirnya saya berhasil menyelesaikan novel yang ternyata sangat menarik tersebut dan dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Sebenarnya saya sendiri tidak percaya diri dengan jawaban yang saya berikan, bahkan saya malah balik mempertanyakan makna pemberian nama tokoh di novel tersebut. Saya sudah bayangkan pasti jawaban teman-teman yang lain sangat keren. Saya pikir ”ah, ini kan proses pembelajaran, harus dinikmati."

Tiga minggu berlalu, saya izin pulang dinas lebih dulu dibanding tim yang lain. Saya berangkat ke Yogya, mengikuti rangkaian program dan akhirnya tiba di hari H dimana sesi Critical thinking diberikan. Kak Reslian Pardede dibantu Kak Dede Prabowo menjadi Inspiring Leaders di sesi ini. Di awal sesi, Kak Lian membacakan 2 tulisan teman-teman yang dianggap bagus dan mengonfirmasi isi jawabannya. Wah, keren-keren sekali tulisan mereka. Ah, sudah lah! Tulisan saya sepertinya tidak akan masuk ke dalam kategori baik, berhubung mengerjakannya di dalam kondisi yang kurang mendukung.

Kak Lian kemudian hampir masuk ke dalam materi yang sudah ia persiapkan, namun sesaat sebelum itu, ia membacakan salah satu jawaban saya sebagai pengantar masuk ke dalam materi. Senangnya bukan main! Hehehe…Serius, saya ga menyangka…sepanjang sesi, saya berefleksi. Ternyata benar yang disering di katakan Bang Az (Inisiator Gerakan Mari Berbagi), kira-kira begini  “Berbuatlah yang terbaik dalam tiap detik hidup dan ikhlas! Bonus lain belakangan!”. Mungkin kondisi saya waktu mengerjakan tugas bukanlah kondisi yang baik, tapi itulah hasil dari usaha terbaik yang bisa saya berikan di kondisi tersebut dan saya berusaha mengerjakannya dengan senang hati.

Di akhir sesi, Kak Lian dan Kak Dede ternyata membawa oleh-oleh buku karya Ayn Rand lainnya. 1 orang teman mendapat buku asli “Anthem”, 1 orang mendapat “The Fountainhead”, dan saya mendapat buku yang kabarnya adalah Ayn Rand's masterwork yang berjudul “Atlas Shrugged”. Rasa senangnya masih terasa sampai sekarang. Mungkin karena saya sangat suka buku, dan di hari itu secara tak terduga mendapat 2 buah buku (1 buku dari sesi lainnya), selain itu saya juga baru saja tertarik dengan Ayn Rand. Di luar itu, pelajaran terpenting yang saya dapat adalah ketulusan dalam mengerjakan segala sesuatu. Sejak sesi itu berakhir, saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak mengeluh terhadap tugas apapun. Walaupun tidak suka, harus tetap berusaha mengerjakannya dengan kemampuan terbaik yang saya bisa dan ikhlas. Masalah hasilnya ternyata lebih jelek dibanding orang lain, toh itu juga akan jadi proses pembelajaran kan?

Thanks to Kak Lian and Kak Dede! 


Tuesday, 18 February 2014

Si Kristen dan Pesantren

Aku, Aulia, dan Airlangga terbahak-bahak saat kami menyadari kaki kami bengkak karena perjalanan melelahkan dari Yogyakarta-Sleman-Purworejo-Jakarta dengan modal tiga ratus ribu rupiah untuk bertiga. Namun, bukan tentang kaki yang bengkak yang hendak ku ceritakan dalam halaman ini, tetapi mengenai inspirasi yang membengkak akibat perjalanan ini. Perjalanan ini tidak hanya sekedar berpindah secara fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan ke dalam diri sendiri dalam rangka mengenal diri sendiri atau yang disebut sebagai ‘ziarah diri’

Kami adalah 3 dari antara 47 peserta Youth Adventure dan Youth Leaders Forum 2014 yang diadakakan oleh Gerakan Mari Berbagi.  Sesuai nama gerakannya, maka petualangan yang kami lakukan juga bertema berbagi. Di kota pertama yaitu Sleman, kami melakukan yang namanya Ziarah Pengemis, dimana kami harus meminta berbagai bantuan dari orang lain agar dapat makan dan beristirahat serta punya sumber daya yang cukup untuk melakukan perjalanan selanjutnya ke Purworejo dan Jakarta. Sedangkan di kota kedua, yaitu Purworejo, kami diharuskan melakukan kegiatan berbagi dengan orang lain, atau yang disebut Ziarah Penderma. Di dalam bus malam Purworejo menuju Jakarta, momen-momen inspiratif itu berkelabut di kepalaku, menjadi penawar rasa lelah dan bosan berbelas-belas jam duduk di dalam bus.

Di dalam kepalaku, aku kembali ke titik itu. Titik dimana aku berdiri di depan sebuah pondok pesantren di Sleman. Aulia dan Airlangga sudah maju beberapa langkah di depanku. Entah mereka tahu atau tidak, aku terguncang saat itu. Aku sangat takut. Sekuat tenaga, aku mengontrol emosiku. Aku adalah seorang yang beragama Kristen dan aku sebisa mungkin menghindari pemeluk agama Islam yang ku anggap fanatik, termasuk orang-orang pesantren. Jauh sebelum titik ini, aku mengalami hal yang tidak menyenangkan dan sampai sekarang masih aku ingat. Waktu itu, aku masih duduk di bangku SMP. Salah satu guru agama Islam di sekolahku sepertinya sangat benci dengan orang Kristen. Tiap kali beliau masuk kelas, ia pasti akan bercerita dengan banyak sindiran terhadap orang Kristen. Menit-menit sangat menyiksa dan aku seperti sedang ditertawakan oleh teman-teman sekelasku. Setelah cerita itu selesai, barulah kami yang non-muslim diperkenankan keluar kelas. Hal itu terjadi sangat sering selama 2 tahun ia mengajar di kelasku. Ini membuat hari dimana ada pelajaran agama Islam menjadi sangat menakutkan bagiku. Sampai suatu hari, ada rapat OSIS di dalam musholla sekolah dan beliau berdiri di dekat pintu. Karena tidak berani masuk ke musholla, aku hanya berdiri sebentar didekat sepatu-sepatu diletakkan dan setelah itu dengan dada sesak dan mata basah aku pergi dan tidak mengikuti rapat. Sejak masa-masa itu, aku menjadi sangat tidak nyaman dengan pemuka agama Islam. 

Ketakutan akan rasa ditolak, disalahkan, dianggap najis, kafir, dipojokkan menyelimuti hatiku. Otakku pun mendukung dengan logikanya: “kenapa harus ke pesantren, toh kami sebenarnya sudah mendapatkan izin menumpang di kontrakan temanku di Sleman".

Tiba-tiba Aulia bertanya “Kakak, ga apa-apa Kak?”

Aku bingung sebenarnya harus menjawab apa. Aku berusaha berdialog dengan diriku sendiri. “Mungkin ini adalah tantangan pertama untuk melawan ego mu. Kamu harus keluar dari zona nyamanmu, dan coba lihat ada apa di dalam sana” ucapku dalam hati.

Aku kemudian menjawab Aulia dengan pelan, “Ga apa-apa.”

Setelah beberapa menit berdiri di luar, kami di sambut oleh seorang santri. Pergulatan di dalam diriku belum selesai. Ada bagian diriku yang berharap, semoga kami tidak bisa menginap di pesantren. Airlangga kemudian menjelaskan kondisi kami saat itu kepada Santri dan Istri sang Ustadz. Aku masih berharap kami tidak tidur di sana. Beberapa saat kemudian, Airlangga masuk ke ruangan tempat kami menunggu dan memberi kabar bahwa kami diizinkan menginap. Bukannya senang, aku malah kecewa. Aku masih takut.

Menit demi menit berlalu, kami disambut hangat oleh Istri Sang Ustadz. Keramahan beliau sedikit memberi ketenangan di dalam hatiku yang sedang riuh. Kami disuguhkan minum, makan, cemilan, dan yang terpenting senyum yang tidak berhenti menyungging di wajah si Ibu. Beberapa lama kemudian Ustadz datang, dan dengan keramahan yang sama ia menemani kami. Malam berganti pagi, dan kami harus bersiap meninggalkan kota Sleman untuk menuju Purworejo. Sebelumnya seorang santri, memberikan kami sarapan bubur gudeg yang lezat. Lezat sekali karena terasa tulusnya. Selama interaksi yang terjadi dengan Ibu, Ustadz, dan Santri, tidak ada rasa risih yang mereka tampakan ketika aku berada di dekat mereka. Ketika Ustadz bicara pun, ia menanyakan namaku dan melibatkan aku dalam pembicaraan.

“Pluralitas adalah kenyataan kehidupan yang harus kita hargai. Binatang saja kita rawat, apalagi saudara kita sesama manusia, tidak ada alasan untuk menolak saudara yang berbeda keyakinan.“ ujar Ustadz.

Dari Ustadz, aku belajar bahwa kita boleh menceritakan iman kita kepada orang lain, tetapi tidak dengan memaksa dan tidak menjelekkan kepercayaan orang lain. Ya, masalah perbedaan bukanlah bagaimana memaksa agar kita menjadi sama, tetapi bagaimana kita menerima perbedaan itu.

Di dalam pesantren, aku seorang Kristen, memaknai apa itu berbagi dalam perbedaan.









Sunday, 10 November 2013

Ketemu Pahlawan

Hari ini adalah hari Pahlawan dan hari Pahlawan tahun ini lebih berkesan dibanding hari Pahlawan tahun sebelumnya (yang saya rayakan dengan makan gulai jengkol yang dibeli di warteg dekat kostan). Kenapa tahun ini lebih berkesan? Kemarin (Sabtu, 9 Nov) saya bertemu dengan orang-orang yang saya anggap pahlawan-pahlawan muda Indonesia, orang-orang yang punya semangat berbagi yang luar biasa!

Kami semua berkumpul di Kementrian Pemuda dan Olahraga untuk mengikuti seleksi tahap II peserta Youth Adventure and Youth Leaders Forum 2014 yang di adakan oleh Gerakan Mari Berbagi. Peserta yang hadir ini berasal dari berbagai daerah. Ada yang datang dari Aceh, Cepu, Yogyakarta, Semarang, Kupang, Sulawesi, dan lain-lain. Kabarnya ada juga pendaftar yang berasal dari Papua. Semua peserta seleksi yang hadir datang dengan biaya sendiri.

Cuma satu hari memang, tapi banyak hal menarik yang saya temui di momen ini. Pertama, sebelum hadir di acara ini, kami diminta untuk membawa bekal makan siang masing-masing. Awalnya saya pikir merepotkan. Namun setelah dijelaskan barulah saya paham, bahwa sebenarnya panitia sedang menerapkan prinsip berbagi di sini. Mereka telah bekerja secara suka rela demikian pula para juri (sekitar 15 orang) yang menilai kami semua, maka kami pun harus bertanggung jawab terhadap diri kami sendiri. Lewat prinsip itu, kami belajar bahwa acara berkualitas berjalan baik tidak selalu dengan dana besar. Jika peserta membawa makanan sendiri, betapa besar biaya yang bisa dialokasikan untuk hal bermanfaat lainnya.

Bukan cuma panitia dan peserta, bahkan para juri juga membawa bekal sendiri. Lebih hebatnya lagi, mereka banyak yang terbang dari luar kota dan baru tiba di Jakarta hari Jumat malamnya. Para peserta seleksi ini tidak kalah hebat. Kami di-encourage untuk memanfaatkan momen itu untuk berkenalan dan ngobrol dengan sebanyak-banyaknya orang. Prinsipnya, waktu terpenting dalam hidup kita adalah ‘now’ dan orang yang terpenting dalam hidup kita adalah orang yang sedang berada di sebelah kita. Jadilah kami mengobrol sangat banyak dan dengan banyak orang.

Oh ya, saya juga terkesan saat pembukaan acara ini, doa tidak hanya dipimpin oleh agama mayoritas tetapi juga bergantian oleh perwakilan agama lain. Di acara pembukaan, kami menyanyikan lagu Indonesia Raya dan membacakan Sumpah Pemuda. Sekitar pukul 9 pagi, waktu seleksi pun tiba. Kami dibagi dalam 6 kelompok dan akan melewati 6 pos seleksi. Ada tes fisik, visi misi, bahasa Inggris dan prestasi, cultural performance talents, dinamika kelompok, dan affirmative. Saya sendiri merasa rendah diri waktu itu melihat teman-teman lain yang sudah jadi pemimpin di sana-sini, punya bakat keren, dan prestasi selangit. Walaupun begitu, saya senang dan belajar dari mereka. 

Di kelompok saya ada 2 orang yang berasal dari Aceh (bekerja di NGO di Aceh), 1 orang dari Yogyakarta (dan pernah ke Utrech University di Belanda), 1 orang dari Kupang (dan sedang mencoba berkarya di dunia politik). Satu-satunya yang asli berasal dari Jakarta adalah mantan ketua BEM Universitas Indonesia, kampus dimana saya dulu belajar dan saya tidak pernah menyangka bisa mengobrol sedekat itu dengan tokoh kampus ini. Mereka hebat-hebat sekali. Kami tidak hanya ngobrol di dalam kelompok, tapi juga ikut-ikutan ngobrol dengan kelompok lain. Sambil menunggu giliran interview, kami bercerita banyak hal mulai dari pengalaman pribadi (ada yang hampir mati di gunung Semeru dan berbagi pelajaran yang ia dapat), perekonomian Indonesia, pemilu 2014, optimisme untuk Indonesia ketika nanti dipimpin oleh Generasi Y dan budaya (ada yang penasaran dengan kompleksnya budaya Batak, haha). Tidak hanya hal serius, kami juga banyak bercanda dan bernyanyi santai.

Ketika acara selesai sekitar jam 6 sore, kami hampir tidak mau pulang karena asiknya berinteraksi dengan sesama peserta dan mendengar cerita dari inisiator Gerakan Mari Berbagi. Walaupun begitu, kami tidak bisa memilih. Di perjalanan pulang, saya berjalan dengan 4 teman lain. Saya kaget ketika seorang teman yang berasal dari Solo hanya diberikan uang 50.000 rupiah oleh orang tuanya untuk ke Jakarta ini dan menginap di kontrakan sempit pamannya yang berjualan gorengan. Salut dan hormat saya untuk semangat dari orang-orang hebat ini, mulai dari para panitia, juri, hingga peserta seleksi Youth Adventure and Youth Leaders Forum 2014. Bertemu dan berinteraksi dengan mereka membuat saya makin optimis bahwa bangsa kita punya banyak pejuang yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi lebih baik.