Pages

Wednesday, 5 April 2017

Bukan Urusanmu

Mungkin kadang komentar-komentar di sekitar kita adalah sebuah bentuk kepedulian, tapi sering kali kebablasan. Apalagi kalau diomonginnya ga di depan kita, melainkan dengan orang lain. Mempertanyakan setiap keputusan yang kita ambil, lalu bermain-main sendiri dengan pikirannya. Padahal, tiap orang punya ceritanya sendiri, dan kita cuma tahu seuprit dari cerita itu. Kalau kata seorang temanku: kita ga tau apa yang ada di sepatu orang lain. Mungkin sepatu dia lebih berduri daripada sepatu kita. 

Teringat pengalaman beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan seorang tokoh masyarakat dan beliau memperkenalkan istrinya. Dalam hati "wah, istrinya jauh lebih muda, pasti bukan istri pertama." To cut the story short, si Bapak akhirnya cerita bahwa benar, si ibu yang dikenalkan ini bukan istri pertamanya. Berita buruknya, si Bapak berpisah dengan istri pertamanya hanya karena sang mantan istri bilang bahwa ia sudah tidak kuat hidup miskin. Si Bapak menikah dengan istri keduanya berbelas tahun setelah perpisahan itu, dan si Bapak tetap bertanggung jawab membesarkan anak-anaknya. 

Ketika tahu ceritanya lebih dalam, rasanya pengen tabok diri sendiri. Emang mesti melatih otak supaya mikirnya lebih positif. Ga penting juga kalau emang si Bapak punya istri muda misalnya. Ga ada urusan juga,  toh bukan aku yang ngasih makan...hahaha...

Di sisi lain, aku juga sedang belajar yakin terhadap keputusan apapun yang aku ambil dan ga peduli dengan komentar ngga penting dari orang lain (yang sering kali cuma sebatas komentar, dan tanpa solusi), selama itu tidak merugikan dan melukai orang lain. As my role model said "People will judge you anyway, no matter what you do....so, just do whatever you feel right".

Tuesday, 4 April 2017

Pak Iksan

Konon katanya "we don't meet people by accident. They are meant to cross our path for a reason".

Demikian juga pertemuan saya hari ini dengan Bapak Iksan yang cuma beberapa menit hari ini ternyata cukup berkesan buat saya. Pak Iksan ini mendapatkan dana hibah untuk menjalankan proyek peningkatan kapasitas guru dan manajemen sekolah di Malang, namun beliau sendiri tinggal di Sidoarjo. 

Memang berinteraksi dengan orang yang passionate terhadap apa yang dilakukan selalu membawa energi positif. 

"Alasan personal saya menjalankan program ini ya sebenarnya untuk berterima kasih pada masyarakat di sana, karena saya lahir di sana, dan karena mereka juga saya bisa seperti sekarang. Jadi, ini waktunya untuk giving back."

"Tantangan terbesarnya apa Pak?" saya bertanya, sambil membayangkan jawabannya pasti sekitar kondisi masyarakatnya.

"Saya tidak pernah klaim perjalanan saya Malang-Sidoarjo-Jakarta untuk program ini. Tapi ya, saya mesti hadir, dukung dan kawal masyarakat, walaupun diinformasikannya biasanya selalu dadakan. Kalau tidak berkomitmen tinggi, ya ini ga akan bisa dilakukan. Jadi komitmen adalah tantangan pertama."

Makjleb! Emang tantangan pertama itu datangnya dari diri sendiri ya! 

Makasi inspirasinya hari ini Pak Iksan! Semoga kapan-kapan bisa main dan lihat programnya.

Monday, 3 April 2017

Hygge

Bayangkan pagi ini kamu bangun terlambat karena kemarin lembur mengurus event kantor. Sementara kamu harus tiba di kantor pagi-pagi sekali. Kamu mandi dan ternyata sabunmu habis. Oke, kamu akhirnya mandi tanpa sabun. Kamu bergegas tanpa sarapan dan segera meluncur ke tempat kamu memarkir kendaraanmu. Ternyata, kamu mendapati ban kendaraanmu kempes. 

Kamu berpikir cepat dan memutuskan ke stasiun terdekat untuk naik kereta. Kebetulan ada ojek yang lewat di sekitarmu. Setibanya di stasiun, kamu tidak punya uang pas, dan terpaksa merelakan lima puluh ribu rupiahmu mendarat di kantong abang tukang ojek. Padahal kamu sedang paceklik dan cuma tersisa seratus ribu rupiah di atm menjelang dua hari lagi gajian.

Kereta lewat, dan kamu berlari-lari agar bisa segera naik. Kamu bisa masuk ke dalam karena ada orang yang mendorongmu dari peron. Badanmu terhimpit orang-orang lain, sementara kulit tanganmu perih tergores-gores ujung tas dan perhiasan para perempuan yang berdesakan di gerbong yang sama denganmu.

Akhirnya kamu tiba di kantor. Atasanmu yang jutek tampaknya sedang tidak dalam mood yang bagus. Kamu hari ini harus menyelesaikan proyek yang kamu tidak suka. Hari terasa sangat panjang. Makan siang seadanya dan jam pulang kerja terasa sangat lama. Atasanmu bolak-balik merubah pertimbangannya, yang juga berdampak ke pekerjaanmu yang semakin lambat selesai.

Jam pulang kerja yang ditunggu tiba. Seorang sahabat tiba-tiba mengirim pesan mengundang makan malam bersama. Kalian akhirnya bertemu di rumahnya. Kamu merasa legaaaa sekali. Makanan yang disediakan sesuai seleramu, terlebih kamu makan seadanya hari ini. Sahabatmu juga sangat hangat, ia mendengar ceritamu dengan sangat sabar. Ceritanya juga sangat menenangkan kamu. Teh hangat kesukaanmu sudah tersedia, dan kamu menyandar santai di sofa sambil tertawa-tawa mendengar lawakan temanmu. Bagaimana persaanmu? 

Perasaan nyaman seperti ini dikenal sebagai Hygge (dibaca Huga) di dalam budaya Denmark. Negara dengan tingkat "happiness" tinggi di dunia ini, memiliki konsep "nyaman" atau "cozy" sebagai sebuah kebahagiaan. Sebuah konsep yang sangat sederhana. Mengingatkan aku untuk bersyukur karena masih memiliki tempat berteduh dan juga sahabat, serta keluarga yang bisa menimbulkan rasa nyaman itu meskipun hari-hari dalam kehidupan sedang kacau balau.

Apa yang membuatmu merasakan Hygge dan bersyukur hari ini?


Sunday, 2 April 2017

Inspirasi dari Sombori


Sombori, sebuah desa kecil di pelosok ibu pertiwi namun sungguh memikat hati. Desa ini terletak di provinsi Sulawesi Tengah, namun dapat diraih dengan 7-8 jam perjalanan darat/laut dari Kota Kendari. Masyarakat desa ini adalah suku Bajo yang biasa membangun rumah di atas air.

Hari itu, aku dan teman-teman disambut Bapak Kepala Desa atau biasa dipanggil Pak Desa di kantornya. Ternyata, karena kecilnya desa ini, biasanya para tamu seperti kami ditampung di balai desa. Beruntung, Pak Desa memberi kami izin untuk tidur di ruangan kosong di sebelah kantornya yang percaya tidak percaya adalah kemewahan besar untuk para tamu wisatawan.

Sombori, selain alamnya indah, desa ini juga memiliki orang-orang dengan hati yang indah. Pak Desa salah satunya. Pak Desa membuat saya optimis bahwa ada orang-orang lurus dan cerdas yang berjuang buat masyarakatnya, walaupun tiap hari tawaran uang bersileweran di depan mata. Pak Desa sendiri sering ditawari harta kekayaan agar dapat menjual pulau di wilayahnya. Aku juga bisa melihat betapa Pak Desa juga membangun aturan-aturan bagi wisatawan agar kedatangan mereka juga dapat membantu masyarakat setempat, contohnya mandi di rumah warga (tidak semua punya kamar mandi dan air bersih), pesan makan dengan warga, menetapkan tarif untuk tour guide yang merupakan warga setempat. Pak Desa juga dengan bijak mengatur giliran masyarakat yang bertugas agar semua bisa kebagian rezeki.

Aku dan teman-teman juga bertemu dengan nenek dan bapak asli suku Bajo di seberang pulau tempat kami menginap. Nenek dan kakek ini, berjuang menentang penjualan pulau ke pihak lain yang jika terjadi tentu merugikan masyarakat setempat. Hari itu saja, aku dan teman-teman tidak bisa masuk ke sebuah pulau untuk naik ke atas tebingnya, karena pulau tersebut ternyata sudah dikelola dan dikuasai orang lain.

Malam harinya, aku dan teman-teman duduk-duduk dan mengobrol hingga larut malam dengan Pak Guru sekaligus kepala sekolah di desa Sombori. Ternyata hanya ada 5 guru di desa tersebut (termasuk beliau) dan hanya ada 47 anak Sekolah Dasar dari kelas 1 hingga kelas 6. Semangat Pak Guru yang tiap beberapa tahun sekali pindah pulau untuk mengajar benar-benar menyentuh. Pak Guru sendiri bercerita dia juga banyak berubah karena karakter anak-anak. Tadinya Pak Guru adalah orang yang diktator, namun dia menyadari bahwa anak-anak semakin menjauh. Sekarang Pak Guru menjadi sosok yang lebih ramah, suka bercanda dan dekat dengan anak-anak. 

Ahh, kurang lama rasanya di sana. Perjalanan bertemu dengan orang-orang yang berbeda, alam berbeda memang selalu membuat rasa syukur tak henti-hati terucap dalam hati. Semoga bersama orang-orang berhati indah ini, Sombori semakin baik dan membawa manfaat bagi semua orang yang bersentuhan dengannya.




Saturday, 1 April 2017

Si Daffodil

Kalau sedang rindu UK begini, aku suka membayangkan sedang musim apa dan suasana alam di sana. Saat ini, UK sudah memasuki musim semi. Musim paling indah buat negara dengan 4 musim. Setelah penantian panjang dari musim dingin yang gloomy dan bikin depresi. 

Bunga daffodil, atau dikenal juga dengan Narcissus sekarang pasti sedang bangga-bangganya nampang di mana-mana. Di jalanan, di taman, di halaman rumah, di vas bunga coffee shop bahkan waktu itu sempat nemu gambarnya jadi dekorasi pintu toilet umum. 

Temanku pernah cerita bahwa sebenarnya di Daffodil atau si Narsis ini sebenernya tidak mati waktu musim-musim lainnya. Akar bonggolnya tetap hidup di dalam tanah, tapi keluar dan berbunga di musim yang tepat. Well, this is pretty much inspiring for me in pursuing a dream. Seperti Daffodil, kita mungkin tidak akan terlihat indah sepanjang waktu. Ada masa-masa kita merasa kering, layu, bahkan kelihatan mati. Tapi, seperti Daffodil juga, jangan sampai mimpi dan passion kita mati, apalagi karena perubahan di lingkungan kita. Just keep your dream burning deep inside your heart. Suatu hari, pada waktunya, mimpi itu  mungkin akan jadi nyata, berbunga indah dan dinikmati banyak orang.  

Sumber: https://www.gardenia.net/rendition.slider_detail/uploads/plant/1430569955-8f415281447211a30/206389.jpg


Wednesday, 25 January 2017

Jadi Minoritas adalah Kesempatan

Atasan saya (Inge Inkiriwang) dulu sering bilang "I see opportunity as minority". Beliau adalah atlet sepeda perempuan pertama dari Sumatra Barat yang mewakili Indonesia di ajang olahraga Sea Games. Beliau sendiri bukan orang asli Sumatra Barat yang berpenduduk mayoritas Muslim, melainkan campuran Minang-Chinese-Manado dan beragama Kristen. Namun, meskipun minoritas justru beliau sangat mencintai Sumatra Barat.


Source
Setelah hampir setahun lebih berpisah, saya baru merasakan apa yang dimaksudkan beliau. Akhir-akhir ini dunia dan Indonesia sedang dilanda keresahan akan diskriminasi dan prejudice, yang menimbulkan kecurigaan dan kebencian antar kelompok. Yang minoritas merasa terdiskriminasi, ada pula mayoritas yang merasa terancam akan keberadaan kaum minoritas dan malah merasa lebih minoritas daripada yang sebenarnya minoritas. 

Pengalaman saya hidup di luar negeri dan melakukan perjalanan sendiri justru mengajarkan saya betapa powerful-nya menjadi minoritas. Di kelas saya adalah orang Indonesia satu-satunya. Di beberapa kesempatan voluntering saya juga menjadi satu-satunya orang Indonesia. Demikian pula ketika saya melakukan solo-travel ke beberapa negara di Eropa, saya bertemu, berkenalan, dan berbicara dengan begitu banyak orang dari berbagai negara dan tidak satupun orang Indonesia yang saya temui di hostel maupun perjalanan. Lalu, apa untungnya?

"You are my first Indonesian friend!" itu kalimat yang sering terlontar dari mereka. Saat itu lah saya merasa benar-benar menjadi duta Indonesia. Saya juga bangga saya bisa menceritakan Islam yang positif kepada mereka yang hanya melihat Indonesia dari kasus terorisme dan demo FPI. Di suatu hari, saya juga secara random ikut free walking tour di Amsterdam, dan tour guide saya menyarankan kami untuk mencoba makanan Indonesia dan jadilah saya mengajak mereka mampir ke restoran Indonesia setelah tour berakhir. 

Di kesempatan lain, saya diundang untuk tinggal beberapa hari bersama keluarga Inggris. Hampir setiap malam, saya dan si Bapak ngobrol hingga larut dan kami membahas tentang fenomena minoritas-mayoritas yang terjadi di berbagai belahan dunia. Kami sepakat, bahwa mungkin terkadang prejudice dan perilaku cepat menghakimi disebabkan karena mereka memang tidak pernah bergaul personal dengan orang-orang yang mereka anggap minoritas dan mengancam keberadaan mereka. Saya terhenyuh saat si Bapak bilang begini "kamu tahu, di umurnya (sang istri) yang sekarang sudah 70 tahun lebih, baru kali ini dia bisa begitu dekat dengan orang yang berbeda ras dan budaya." 

Jadi, menjadi minoritas itu bukan ancaman, melainkan kesempatan. Dengan pertemanan yang tulus, kamu justru punya kesempatan besar untuk menjadi duta kelompok dari mana kamu berasal.

Sunday, 6 November 2016

Saya dan 411

Adakah yang pernah bertanya bagaimana pendapat seorang non-Muslim seperti saya dalam memandang wajah Islam setelah kejadian 411? 

Mari kita simpan dahulu pertanyaan ini. 

Beberapa hari kebelakang adalah fenomena yang sangat menarik, kontroversi di mana-mana, yang menurut saya tidak perlu naif untuk dihindari. Disonansi kognitif terjadi, pergulatan sebenarnya tejadi di dalam diri kita sendiri. 

Bagaimana pergulatan yang terjadi dengan saya? 

Konflik saya tentang Ahok

Tidak usah bicara soal kebijakan yang kontroversi, karena itu biasa dan dapat terjadi di semua pemimpin. Tulisan ini, berangkat dari permasalahan awal Ahok yang dianggap menistakan agama Islam. Reaksi saya saat pertama kali mendengar adalah malu. Sangat malu. Pasalnya, saya tahu beberapa kali ucapan-ucapan Ahok di beberapa kesempatan sangat menggambarkan apa yang saya imani secara Kristiani. Tapi di lain sisi, saya sedih dan malu ketika beliau sudah mengeluarkan kata kotoran manusia itu.  Saya patah hati. 

Namun teringat postingan seorang teman jauh sebelum kejadian ini: "we just sin differently". Ini obat pergulatan saya yang pertama. Saya berusaha membaca berita, pendapat orang-orang yang pro dan kontra, termasuk mencari tahu klarifikasi beliau sendiri soal gaya bicara ketika marah dan soal penistaan agama. Yang banyak membantu saya dapat perspektif lain adalah video ini (tentang gaya bicaranya) dan video ini (tentang si penistaan agama). Saya mendapati bahwa beliau punya alasan melakukan itu semua, tapi saya juga belajar dari beliau tentang tidak berkeras hati untuk dikoreksi. Konflik saya dengan diri saya sendiri tentang Ahok sudah selesai. Saya merasa beliaupun sudah melakukan apa yang beliau seharusnya lakukan, setidaknya sampai hari ini.


Konflik saya tentang Islam

Dari masa saya bersekolah, selama bertahun-tahun saya mengalami diskriminasi dari orang-orang yang sudahlah senior, mayoritas pula. Mungkin tidak disadari oleh orang-orang di sekitar saya yang juga mayoritas. Kalau mengorek-ngorek sakit hati saya, saya sangat rentan provokasi. Tapi saya sudah selesai dengan itu semua, khusunya sejak momen-momen 2 tahun lalu lewat komunitas yang bernama Gerakan Mari Berbagi, yang saya ceritakan di sini dan di sini. Saya sudah berdamai dan sudah move on. Ah, apa betul ya? 

Ketika sebagian orang bangga akan kesatuan umat yang turun saat 411. Sebaliknya, saya mengamati teman-teman saya yang sama-sama Muslim berdebat tentang pendapat mereka cukup panas. Beberapa ternyata juga gelisah tentang wajah Islam atau juga agama secara umum yang ditampilkan lewat fenomena ini. 

Yang paling membuat saya ikut sedih, tiba-tiba seorang teman kirim pesan begini:
"Apa aku salah kalo aku ga setuju ama tindakan itu, kok banyak orang sampe segitunya, apa agama aku jelek, tapi hati nurani bilang ga bisa ngejudge ahok ampe segitunya, (bahkan ngejudge salah yang demo pun apa harus nya jangan) ðŸ˜ž sedih" 

Jadi kembali, ke pertanyaan semula, apakah saya jadi memandang Islam itu jelek setelah semua ini? 
Jawabannya tegas: TIDAK. 

Saya harus berterima kasih kepada teman-teman Muslim yang masih berteman baik dengan saya, melalui teman-teman ini membantu saya berdamai juga dengan diri sendiri. Buat saya, pertemanan pribadi hari demi hari dengan mereka adalah 'dakwah' yang paling berarti, dimana saya merasakan damai melalui pertemanan dengan mereka. Bukan kah damai itu bukan sekedar judul, tagar, atau tulisan motivasi, melainkan harus dialami? 

Dalam tulisan ini, saya berulang-ulang menulis tentang hati dan damai dengan diri sendiri. Menurut saya, semua hal buruk di dunia ini terjadi karena kita belum berdamai dengan diri sendiri. Korupsi terjadi karena tidak berhasil bedamai dengan kepuasan diri. Pemerkosaan terjadi karena tidak berhasil berdamai dengan nafsu syahwat diri. Pembunuhan terjadi karena tidak berdamai dengan kedengkian hati. Permusuhan, iri, dendam, sakit hati terjadi karena tidak berdamai dengan harga diri sendiri.

411 adalah aksi damai. Semoga itu benar dan terus berlanjut hari demi hari. Terutama berdamai dengan diri sendiri. 

Jadi bagaimana dengan kamu, sudahkah berdamai dengan diri sendiri?

Damai di hati, damai di bumi :)