Pages

Tuesday, 29 October 2013

My 50 List

Yesterday, the heavy rain came to my city, no umbrella, and trapped in the office! So, I did something fun

Inspired by some writers, I'm encouraged to write down my random wish list too ^_^
Here are some of the things I'd like to do in my life:

1. Learning how to swim
2. Learning how to ride a bike
3. Learning how to drive a car
4. Learning how to dive
5. Reading all Paulo Coelho's book
6. Collecting all Mitch Albom's book
7. Sleeping under the sky
8. Climbing a mountain
9. Going to Maluku
10. Going to Papua
11. Going to Nusa Tenggara Barat
12. Backpacking abroad
13. Traveling alone (not on work purpose)
14. Traveling with my sister and brother
15. Having my own Batak culture based wedding ceremony
16. Learning Batak Toba language
17. Riding a horse
18. Writing a love story
19. Buying a pocket camera
20. Going to SEA aquarium in Singapore
21. Studying abroad
22. Having a master degree
23. Standing in front of a class as a trainer
24. Learning basic Yoga
25. Trying 10 types of Indonesia origin coffee (so far: Lahat, Jambi, Flores, Toraja, Bali)
26. Going to Europe
27. Performing a traditional dance - done (simple Saman dance)
28. Attending a youth leaders forum - done (YLF 2014)
29. Going to Google office
30. Wearing batik when traveling abroad
31. Watching sunrise at top of mountain/hill.
32. Owning a coffee shop
33. Having my own reading room/private library
34. Playing a full song with a guitar without seeing the chord note
35. Going to Badui village
36. Talking to Phinisi ship maker
37. Playing a puppet show
38. Having a complete snorkeling set
39. Having a full week regular jogging--> done! (2-8 Nov'13, the best record I hit in 23 years of my life, haha)
40. Going to Kite Museum
41. Eating Barito porridge --> done!(seriously, it was very yummy!!)
42. Having a red ransel
43. Taking a picture in UI library
44. Getting drunk
45. Going home by foot (from office)
46. Taking a picture with twin kids
47. Watching all Studio Ghibli movie collection
48. Eating snow
49. Showering under the waterfall
50. Eating Bakmi Yongnam, Mangga Besar, Jakarta

It's not too easy to make the list, haha...maybe I'll add them when I have other idea.
Wish me luck!

*This note is made to see how I can fulfill my dreams from the simplest one. Every number accomplished will convince me that I can reach the others too.







Friday, 18 October 2013

Dream, Collaborate, Act!

Melanjutkan tulisan Awesome Google sebelumnya, berikut ini sedikit ilmu tentang entrepreneurship yang gue dapet dari acara Google Entrepreneurship Day awal Oktober lalu. Dari sekian sesi, gue coba cerita dalam 3 bagian besar ini,

Dream!
Ada seorang pembicara namanya Danton Prabowo (Managing Director Jagoan Hosting dan Jagoan Store) cukup bikin gue terkagum karena doi mengisi sesi selama 30 menit hanya dengan 1 slide berisi gambar lampu ajaib Aladin! How come? Awalnya beliau nanya cerita tentang si lampu itu dilanjutkan dengan meminta para peserta membayangkan: jika benar-benar dikasih kesempatan untuk memberikan 3 permintaan yang akan dikabulkan apa yang akan diminta. Singkat cerita, 2 volunteer maju ke depan untuk sharing mengenai 3 permintaannya. 

Volunteer 1: harta, tahta, wanita
Volunteer 2: sekolah di Harvard, jadi Menteri Pariwisata, dan jadi ahli agama.

Setelah mendengarkan sharing si kedua volunteer, Danton bertanya permintaan mana yang lebih encouraging? Sebagian besar peserta menjawab volunteer 2. 
Nah, ada 2 pesan yang mau dishare oleh Danton lewat contoh ini. Pertama, kalo punya cita-cita harus sudah mulai divisualisasikan dan buatlah guideline. Kedua, vision must be clear. Permintaan volunteer 2 lebih encouraging karena permintaannya lebih konkrit.

Setelah itu, Danton cerita kejadian waktu dia nekat keluar dari Telkom untuk berwirausaha. Orang tuanya nangis 3 hari 3 malam (ini diceritain serius oleh Danton) karena waktu itu kerja di Telkom adalah kebanggaan. Tapi waktu itu, Danton kasih catetan mimpinya ke Ibunya " Bu, Ibu pegang catetan ini, suatu hari aku akan jadi pengusaha sukses" and dream comes true! Ga langsung berhasil sih, bahkan dia sempet dagang di pinggir jalan, tapi katanya kita harus ngabisin jatah gagal kita (ga sepenuhnya setuju sih, kalo bisa belajar dari kegagalan orang lain kenapa harus mengulang, hemat waktu ya ga sih? hehe) 

Pelajaran lainnya adalah perlu banget punya catetan, buat ngingetin kita pernah pengen apa dan udah sampe mana pencapaiannya. Danton juga bilang jangan takut mimpi dan dikatain orang gila. Yah, kalo kita punya mimpi besar terus diketawaain ya kan ga ada ruginya, tapi kalo sampai kita bener-bener berhasil, it will be wonderful.

Collaborate!
Konon katanya, dalam bisnis kita haru berkolaborasi, bukan secara personal tapi secara visi & misi. Yah, kadang ga semua orang menyenangkan buat kita, tapi dalam bisnis harus profesional dong. Ada istilah 'partnership is like marriage, you can't randomly married to someone'. Untuk menghindari ketidakenakan waktu ngejalanin bisnis, makanya usahakan kita tahu dulu siapa partner kita, at least tau visinya apa dan gimana dia kerja. Selain itu, usahakan juga untuk punya partner yang beda skill. Kalo partner bisnis lo orang IT semua lalu ga ada yang jago marketing ya rempong juga, terus siapa yang catet-catet keuangan? Team work makes the dream work, huh?

Oh ya, di sesi pertama tentang 9 notions of innovation itu, pembicaranya cerita tentang Redwood Trees. Katanya, itu pohon tertinggi di seluruh dunia. Panjangnya 116 m, diameter 6,7 m, dan bisa bertahan hidup selama 2000 tahun. Anehnya, pohon ini akarnya kecil. Lalu kok bisa survive ya? Ternyata, walaupun akarnya kecil, akar-akar tersebut saling berpaut pada akar pohon Redwood lainnya, sehingga bisa tetap kokoh. Apa hubungannya dengan kolaborasi? Selain kolaborasi sama cofounder, bagian lain (staf atau karyawan) juga harus diperhitungkan untuk memperkokoh bisnis atau organisasi.

Act!
Nah, setelah punya mimpi, visi misi nya udah jelas, punya partner oke, saatnya merealisasikan. Gue salut banget si Ko Yansen (CEO Kibar sang partner Google untuk acara di Indonesia) yang selalu menekankan kalo mau berbisnis itu buatlah sesuatu yang berguna untuk orang, jangan cuma eksploitasi kayak Indonesia di zaman penjajahan dulu. Salut buat acara ini yang bikin mikir bisnis yang bukan cuma buat memperkaya diri tapi juga jadi media perubahan. Create something out of nothing katanya. Founders itu harus tau apa yang dibutuhkan dan diinginkan pasar.

Kalo produk udah ready sekarang mikirin pemasarannya. Ada 2 trik marketing yang gue dapet. Pertama, utilize orang-orang yang punya akses ke target pasar kita. Kedua, leveraging through social media (ini poweful banget sih sepertinya).

Kata Ko Yansen, di Kibar orang yang kerja sama dia cuma boleh 2 tahun, habis itu harus keluar dan bikin usaha sendiri. Keren yak?!
  
Sekian catatan tentang entrepreneurship-nya dan berharap suatu hari bisa punya bisnis juga, dan salut buat temen-temen yang udah berani dan mulai usahanya. 

"Orang pintar jadi karyawan, orang cerdik jadi pengusaha."

Saturday, 5 October 2013

Awesome Google


Rasa suntuk di kantor bikin saya (yang memang kadang suka random ini) nyari-nyari info tentang kegiatan lucu-lucu bermanfaat. Thanks to social media, kali ini datang dari Google+ , bahwa akan ada acara Google Day (gDayX) di Jakarta. Tring! Cari temen buat barengan...waktu itu mikirnya, kalau acara Google kayaknya yang minat anak-anak IT deh...Langsung tanya Ace si mahasiswa S2 Fasilkom UI, temen se-almamater (TK, SMA, Universitas). Eh pilihan tepat, si Ace malah nawarin acara Google yang lain, yaitu Google Day for Entrepreneurs (gEntrepreneursID). Setelah banding-bandingin agendanya, okeh, 1 cuti saya didedikasikan untuk acara gEntrepreneursID, acara Google for Entrepreneur day pertama di Indonesia ;). Ternyata oh ternyata, ini acara untuk mahasiswa. Mohon maaf panitia karena kalian kemasukan penyusup ;p

g.o.o.g.l.e

Acara ini keren parah! Banyak pengetahuan dan cerita yang memotivasi anak-anak muda untuk berentrepreneur. Entrepreneur-nya bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri, tapi untuk jadi jawaban atas permasalahan di sekitar kita, membantu banyak orang dan akhirnya membangun bangsa kita. 

Di bawah ini, pengetahuan baru yang saya dapat dan mudah-mudahan bisa saya aplikasikan suatu hari nanti ^^ 

9 Notions of Innovation

Innovation, not instant perfection. 
Semua produk bagus itu butuh proses dan banyak feedback dari user. Contohnya adalah gmail beta dimana Google mendapatkan banyak masukan dari pengguna dan akhirnya mengembangkannya.

Share everything you can.
Sharing visi dan misi, Google punya budaya ini di dalam organisasinya. Di Google ada budaya Thanks God It’s Friday, dimana tiap Jumat founder Google (Sergey & Larry Page) sharing mengenai rencana mereka dalan 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan kedepan, sehingga semua staff mulai dari yang paling kecil hingga yang atas paham apa visi/misinya. Itu juga kenapa di kantor Google di Mountain View banyak open spacenya, untuk memfasilitasi agar semua orang saling ngobrol.

You’re brilliant, we’re hiring.
Talent sangat penting. Ya iya lah ya, no doubt yang kerja di Google pasti orang-orang keren semua, hehe...Oh ya, katanya orang yang pertama kali dicari Sergey dan Larry ketika akan membuka perusahaan Google adalah HR (Human Resource). Wah, saya sebagai orang HR jadi agak tersanjung ;p

Lisence to pursue dream
Semakin terbukti betapa kerennya Google dengan prinsip ini. Google punya budaya yang namanya 70-20-10. Jadi setiap karyawan Google akan menggunakan 70% dari seluruh waktunya untuk mengerjakan project utamanya, 20% lainnya digunakan untuk melakukan project lain diluar produk/project utamanya tapi mungkin bisa mendukung itu, sementara 10 % sisanya mereka diperbolehkan (malah didukung) untuk mengerjakan hal-hal yang totally different. Cool, huh?! Budaya ini yang membuat produk Google semakin banyak, padahal awalnya hanya search engine.

Ideas come from everywhere.
Di google, setiap orang boleh memberikan ide. Idenya tidak harus datang dari founder.

Don’t politic, use data.
Dilarang pake feeling doang, kalo mau mengembangkan produk kita harus riset. Oleh karena itu ada yang namanya Google Analytics dan Google Trends.

Creativity loves restraint.
Intinya kalo mau mewujudkan ide, buatlah timeline, jangan omdo alias omong doang  (gue banget ini!)

Worry about usage & users, not money.
Ketika mengembangkan produk, jangan sampai kita cuma melihat dari sudut pandang kita. Seharusnya, justru kita selalu melihat dari sudut pandang user seperti apa kebutuhan mereka, apa kesulitan mereka, dll. 

Don't kill projects - morph them
Google tidak pernah langsung membuang poduknya yang kurang berhasil tapi mereka berusaha mengkolaborasikannya dengan produk lain. Misalnnya google video yang sempat gagal dikolaborasi dengan youtube.

So, wanna develop your organization? Learn from the awesome Google ^^

*tunggu pengetahuan seru lain dari acara ini di posting selanjutnya

Monday, 16 September 2013

[A review] The Internship: Funny yet Inspiring Movie

Untuk beberapa orang, nonton sendirian di bioskop adalah hal yang aneh. Sayangnya (atau untungnya) itu ga berlaku buat gue. Biasanya, kalo udah merasa bosen, pulang kantor suka melipir ke bioskop terdekat buat nonton, tapi kali ini gue mencoba tantangan baru: nonton sendirian pas weekend ;p Berkat rasa penasaran dan rasa bosan, hari Sabtu siang gue melangkahkan kaki ke XXI Setiabudi One Building untuk nonton film The Internship. Pas pertama denger judulnya dan baca sekilas reviewnya, hmm kayaknya film ini agak serius. In fact, I was surprised a lot while watching this film.

Tokoh utamanya adalah Nick dan Billy yang sehari-harinya bekerja sebagai salesman jam. Ceritanya si Nick dan Billy kehilangan pekerjaannya karena perusahaannya  tutup. Suatu malam, si Billy nyari-nyari lowongan lewat search engine: Google. Karena ga dapet-dapet lowongan yang diharapkan (ya iyalah wong keywordnya: job which doesn’t need skill), si Billy mantengin halaman search engine itu dan AHA!! si Billy dapet ide untuk ikutan internship di Google.
Si Billy lalu membujuk si Nick untuk ikutan interview internship ini. Gilak konyol banget interviewnya! Masa si Billy ama Nick minjem komputer perpustakaan buat ikut intervew lewat Google Hangouts. Sebenernya, dari proses interview itu duo Billy & Nick ga oke deh buat diterima, tapi berkat argumen seorang tim program internship ini yang melihat sisi lain keanehan Billy & Nick, mereka akhirnya di terima magang. YEAY! Semua anak-anak internship ini disebut Nooglers. Keren ya?! Si Billy & Nick mesti gabung sama anak-anak muda super cerdas selama magang dan mereka terlihat aneh dan..ehm..tua…hahaha.. .

Satu hal lagi yang gue suka dari film ini adalah gambaran tentang kantor Google. Sampai sekarang gue menganggap Google is the best workplace in the world, dan itu tergambar di film ini.

Hmm, ngebosenin sih nyeritaiin jalan ceritanya disini. Yang jelas, ini film kocak banget!!! Ngakak mulu deh.. RECOMMENDED TO WATCH!! Yang bikin tambah keren lagi, ini film banyak banget pelajarannya.
Ini beberapa quotes keren yang gue dapet dari film ini:

Time, you can't fight it. You cant control time, but you can manage it.
I didn't play smart. I play safe. Look the result now (Billy's regret)
Make reasonable choices!
Good luck! But it's not luck what you need. Good work! (Mr. Chetty to the Nooglers)
Sometimes, the most radical way is just being yourself.
What is it in the world frighten us the most? Changes!

So, kalau lagi suntuk butuh sesuatu yang kocak, you should watch this film it will make you laugh and encourage you at the same time ;)

Oh ya, satu lagi, nonton sendirian hari Sabtu siang sih ga terlalu mengerikan ternyata. Mungkin kalau agak malem, mesti lebih kuat mental ya ;p Buat yang penasaran rasanya nonton sendirian, ada plus minus-nya dibanding nonton sama temen-temen, may be you should try it once at least ^^


Thursday, 12 September 2013

Soul Surfer: I don't need easy. I just need possible!


Ga ada request khusus, tiba-tiba beberapa bulan lalu, Kak Rani (rekan kerja) bawa beberapa DVD di dalem plastik hitam, "Nih Pid.."

Lah, aku bingung, perasaan ga bilang mo minjem DVD.
"Bawa aja, gue udah nonton."
Yah, namanya tong sampah, terima-terima aja lah...lumayan pengisi waktu luang ;p

Lumayan lama juga tuh plastik ga kesentuh di kamar, sampe pas suatu Sabtu yang buntu dan kelabu, akhirnya terpaksa nonton DVD karna ga ada kegiatan menarik lain (dan ga ada duit juga kayaknya). Setelah cap cip cup, terpilihlah film yang berjudul 'Soul Surfer' yang kalo pinjem istilah temen 'Uwooowsome' (saking awesome-nya)

Jadi. film ini bercerita tentang kisah nyata seorang surfer wanita bernama 'Bethany Hamilton'. Dia besar di keluarga yang juga merupakan surfer atau peselancar, jadi sejak kecil sudah diajarkan surfing. Cerita di film ini adalah cerita tentang Bethany di usia 13 tahun. Bethany sangat berbakat sampai-sampai ada  perusahaan yang mensponsori Bethany dan sahabatnya (Alana) untuk ikut kompetisi bergengsi untuk surfer remaja perempuan. Tapi, suatu hari, Bethany kehilangan tangan kirinya (literally) karena digigit seekor hiu. Gimana ceritanya? Silakan tonton sendiri ya..hehe

Lalu gimana kompetisinya? gimana masa depan Bethany? 
Hooaahh...not easy at all lah ya pastinya, tapi itu momen-momen penuh pelajaran. Waktu itu, ngebayangin kalo aku yang jadi Bethany, hmmm....kayaknya ga bakal kuat :'( 
Oh ya, pas tau ternyata di dunia nyata Bethany yang sebenernya cuma beda 2 bulan usianya denganku, makin tercengang...keren banget nih orang...

Berikut beberapa potongan yang berkesan dari film ini:

It's hard to look at things that are too close. 
Sebelumnya kejadian Bethany kehilangan tangan kirinya, Sarah (pembimbing remaja di gereja) mempertontongkan video sebuah benda (kalo ga salah otak), tapi benda tersebut diperlihatkan dari sudut pandang yang dekaat sekali, dan para remaja yang ada disitu diminta menebak benda apakah itu. Emang iya sih, bentuknya jadi aneh dan agak menjijikkan. Gambar otak itu terlihat sangat jelek ketika dilihat dari jarak yang sangat dekat, tetapi ketika kita memandangnya secara keseluruhan, kita baru menyadarai bahwa itu adalah gambar otak yang sangat vital bagi hidup kita. Begitu juga dengan kehidupan si Bethany pasca kejadian ia kehilangan tangannya. Bethany dateng ke Sarah dan bilang dia ga ngerti apa maksudnya Tuhan dan kenapa hidupnya harus begitu (ini scene yang nyeseeeeekkk bangeet!!!!). 

I don't need easy. I just need possible.  
Kalimat ini diucapkan oleh Bethany, saat udah berulang kali mencoba nyoba latihan dasar tapi selalu gagal. Bahkan ayah, ibu dan saudara-saudara Bethany tidak tega melihat Bethany terhempas-hempas di laut saat tak mampu menggunakan papan selancarnya. Bethany tidak menyerah! padahal dia juga tak tahu pasti sampai kapan dia harus berlatih. Kalo gue yang ada di scene itu, mungkin kalimat yang keluar adalah It's impossible, maybe surfing isn't my way, I should find another. 

I could never embraced this many people with two arms.  
Perjuangan Bethany untuk bangkit lagi menginspirasi banyak orang. Apakah dia menang dalam kompetisi surfing? Nope! tapi itu yang diungkapkan Bethany saat media wawancara setelah kompetisi. Dia bilang dia bersyukur telah kehilangan salah satu tangannya dan melewati masa-masa sulitnya. Dengan kisah hidupnya, Bethany bisa meyakinkan orang-orang bahwa mereka masih punya harapan  ditengah seburuk apapun kondisi mereka

Kalau mau tau lebih lanjut tentang Bethany Hamilton, please kindly visit and explore this page:

Sekarang, Bethany sudah menikah loh, dan cerita cintanya pun AWESOME :))

Back to film review, intinya film ini keren banget dan masih buaaanyak cerita dan insight yang belum terurai di halaman ini. So, happy watching! ^^




Tuesday, 27 August 2013

Secuil Rasa dari Balik Layar Jambore Sahabat Anak 2013

Tulisan ini merupakan isi sebuah surat  untuk memenuhi permintaan seorang sahabat yang sedang bertugas di sebuah desa bernama Lamdesar Barat, Maluku Tenggara Barat.

Januari 2013, tahap baru dalam kehidupanku, dimana aku menyudahi masa baktiku di sebuah perusahaan yang menurutku bukan tempat yang tepat bagi diriku. Di masa-masa aku mempertanyakan kembali keputusan tersebut, kesempatan itu datang lewat seorang seniorku di kampus, yang ketika di kampus juga secara tidak langsung mengajarkan aku menenai visi dan misi hidup. Kak Hanna. Di saat itu, sahabat yang akan ku surati ini lah yang meyakinkan aku juga untuk ikut terlibat disini.

Delapan bulan yang luar biasa sejak Januari hingga Agustus 2013, aku bertemu dan belajar dari orang-orang yang terlibat di Hari Sahabat Anak dan Jambore Sahabat Anak XVII. Tim acara yang sangat bersahabat, panitia besar, pengurus harian, pengajar-pengajar area, dan anak-anak. Rangkaian acara yang cukup panjang dengan sumberdaya yang terbatas.

Banyak kesulitan yang kami hadapi, tapi tidak usah aku ceritakan, apa saja yang kami hadapi, karena kesulitan dan masalah sepertinya adalah hal yang mutlak ada dalam mempersiapkan acara seperti ini.  Ada 2 hal yang menjadi kesimpulanku dari 8 bulan persiapan ini;
  • Pertolongan Tuhan itu cukup dan tepat waktu
  • Masih banyak orang yang peduli. Jika kita banyak mengeluh tentang negeri ini, mungkin justru itu karena kita kurang banyak berbuat.

24 – 25 Agustus, acara puncak dari semua rangkaian kegiatan yang kami lakukan akhirnya tiba. Sesi demi sesi terlewati, dan setiap prosesnya memberikan aku banyak pelajaran berharga. Panitia beserta steering committee dan tim kerja, pengisi acara, volunteer-volunteer pendamping, terutama adik-adik saling menginspirasi di acara Jambore Sahabat Anak. Rasa lelah berdiri, berlari, berpanas-panasan, rasa lapar dan haus tersiram lenyap tiap kali melayangkan pandangan ke hampir 1000 anak dan 500 pendamping berkaos oranye di Bumi Perkemahan Ragunan saat itu. Selama ini, ketika aku menjadi panitia inti atau seksi acara sebuah kegiatan, jarang sekali aku bisa menikmati acaranya karena terlalu fokus pada persiapan teknis dan rundown. Tapi kali ini berbeda, hampir tiap detik berharga bagiku. Walaupun kakiku sangat sakit, hatiku tak berhenti bersyukur. Lewat tulisan ini, aku ingin merekam beberapa momen yang tidak dilihat di atas panggung atau di pos-pos kegiatan, tapi terjadi di parkiran, di samping panggung, dan di bawah pohon.

Sesi Tukar KADO di sore hari Sabtu, sesi yang aku tanggungjawabi ini adalah sesi dimana 23 atlet Special Olympic Indonesia (anak-anak penyandang down syndrome dan tuna grahita) mengunjungi 25 tenda-tenda adik-adik peserta Jambore dan sharing mengenai kesulitan dan prestasi mereka, mereka juga memperagakan olahraga Bocce yang mereka tandingkan di olimpiade untuk anak-anak dengan diffable (different ability). Aku pikir aku tak akan punya kesempatan untuk mendengarkan sharing mereka karena harus keliling tenda dan sesekali berdiri di tengah lapangan kalau-kalau ada yang membutuhkan bantuan. Setelah acara sharing selesai, aku mengantarkan teman-teman SOIna ke parkiran. Ketika tiba di dekat parkiran, tiba-tiba ada seorang anak SOIna bilang “Kak, aku seneng banget hari ini, lain kali kalau ada acara ajak-ajak ya Kak”

Darah aku berdesir deras lalu menahan tangis ditengah fisik yang udah capek banget hanya tidur 3 jam dan ketika itu sudah sekitar jam  6 sore. Aku melirik nametag-nya. Oh, namanya David Paul.

Malam harinya, tibalah waktunya panggung hiburan. Penampilan pertama adalah panggung boneka dari Team Ceria. Penampilan yang sebelumnya tidak direncanakan dan baru diputuskan 3 hari sebelum hari H. Itupun karena Ka Filia (salah satu pemain) membantu aku mencari pemain sulap yang akan mengisi salah satu workshop. Pertimbangan panitia menampilkan panggung boneka di awal, karena takut kehilangan euphoria anak-anak karena sebelumnya diisi oleh musik dan gerak. Semua itu ternyata tidak terbukti. Panggung boneka sangat seru, meriah, sama sekali bukan sesuatu yang sepi, bahkan kalaupun diletakkan di akhir acara tidak akan membosankan. Di dalam hatiku aku terharu, sementara mataku menatap seribuan tawa anak-anak dan para pendamping yang sedang menonton. Lima belas menit berlalu, durasi habis, dan kami membereskan perlengkapan panggung boneka. Sebelum tim panggung boneka pergi karena harus ke acara lain, aku menyerahkan amplop berisi pengganti transportasi untuk pengisi acara. Yang aku dapati penolakan. Penolakan yang berbeda yang aku hadapi selama persiapan sebelum hari H, dimana para pengisi acara workshop dan acara lainnya menyatakan ‘tidak bisa’, ‘belum bisa dengan dana segitu’, ‘kalau untuk 1000 anak, kami belum sanggup’, atau bahkan tidak ada respon. Namun, kalimat yang aku dapat kali ini ‘Ga usah Pid..inilah pelayanan kami...kembaliin untuk Sahabat Anak aja’.....serius, air mataku sudah hampir keluar, tapi Ka Filia mengingatkan.

Pengisi acara satu per satu tampil, Rainbow, Peduli Musik Anak, Rubato, semua dengan keunikan dan keseruan masing-masing membawa keceriaan malam hari itu. Setelah lagu Bangun Pemuda Pemudi yang kami nyanyikan dengan lantang bersama band Rubato, acara malam ditutup, panitia kembali dengan persiapannya.

Minggu pagi, tanggal 25 Agustus, jam 5 lewat anak-anak sudah banyak yang menunggu di depan panggung utama untuk senam pagi. Luar biasa semangat mereka. Acara games berlanjut setelah sarapan, kemudian penutupan setelah makan siang. Momen besar bagi 10 proyek terbaik KADO (Karya Anak Indonesia), karena akhirnya di siang itu kami semua mengetahui siapa 3 besar dan juara favorit proyek yang dilakukan selama 3 bulan ini. Setelah diumumkan para pemenang, seketika rasa haru berkecamuk di hati melihat kakak-kakak pendamping berpelukan sambil menangis bersama adik-adik, bahagia karena kerja kerasnya berbuah manis. Di kepalaku terputar memori saat-saat persiapan mereka. Tak jarang aku mendapatkan sms malam hari, mendapat laporan bahwa kelompok X sedang berkumpul mempersiapkan proyeknya. Belum lagi saat mengunjungi launching proyek-proyek ini, melihat sendiri tempat belajar mereka, melihat semangat adik-adik dan mendengarkan perjuangan kakak-kakak pendamping. Mereka semua hebat! Menang atau tidak menang.

Mendengar langsung dari para pengisi acara, fasilitator, dan teman-teman lain bahwa mereka terinspirasi dari anak-anak ini juga jadi penawar rasa lelahku. Sebelumnya di sesi games, ada adik yang tiba-tiba nyeletuk “Ih iya Kak, mereka (teman-teman SOIna) hebat banget! Mereka sampe tanding ke luar negeri. ” Ah, ternyata setiap orang saling menginspirasi =)


Indah sekali pelajaran yang aku dapat sepanjang 8 bulan ini. Sangat personal dan tidak semua tergambar dan terungkapkan di dalam tulisan ini, tapi biarlah rasa syukur ku naikkan kepada Tuhan yang dengan caranya telah memberiku kesempatan ini. Well, now I’m ready for the next lesson =)

Friday, 2 August 2013

Dieng: Abode of God

After so many times of cancellation since last year, finally I went to Dieng with quite bad feeling and tiredness because I just came back form my tiring job duty to Sumatra two days before this trip. Though, my curiosity about Dieng killed my body need to get rest. The name "Dieng" comes from Di Hyang which means "Abode of the Gods" (wikipedia). Dieng is located in East Java, near to Wonosobo.

'Festival Culture Dieng' is my biggest reason to do this trip on that day because it just happens once a year. What is special about it? In Festival Culture Dieng, we can see the process of the "Anak Rambut Gembel" have their hair cut.

Anak Rambut Gembel (Dreadlock hair Kids) are the kids who were born and growth in Dieng area who have dreadlock hair. Their hair is not intended to be dreadlocks, but it grows naturally. Commonly, the hair were normal when the kids were just born, but when they grow older the hair changes and the kids will get a fever. There is a magic story about this phenomenon. Society believe that it will bring a bad luck for them, so the kids should have their hair cut when they are about 7 years old. There is a requirements to do that: the parents should grant all of the kids request because the hair can't be cut if the request hasn't fulfilled yet.

So, that was my mission visiting Dieng on last June, and here are my report.

 The night of the festival:


Fire camp


Lantern Festival
Fireworks




It's very cold at Dieng, I can't tolerate it to stay outside for a long time, so I and friends went to our homestay and sleep because we had to wake up about 2.a.m and trekked to Sikunir Top at 3.p.m.

Our homestay owner said that it was 9 degrees Celsius and it could reach under 0 degrees Celsius on August. Brrrr.....I think it will be easy for Dieng people go to 4-season country in winter, haha...

We're success to wake up at three, and oh my....trekked for an hour at 3 a.m was so challenging. Three of my friends reached the top faster than me...fortunately, there were many people around so I wasn't afraid.

Taraaaa....top of Sikunir Mount! with Sindoro Mount behind us..


These are the view on the way but we didn't see it for we walked at darkness before..

Telaga Cebong
Telaga Cebong

Traditional performance greeted us in the morning
This is the original fruit from Dieng, they called it Carica. They said that if we plant it outside Dieng, it will grow as Papaya. Strange, isn't it?
Carica

After the failed sunrise hunting and before we attanded the Rambut Gembel Ceremony, we visited this Telaga Warna (Coloured Lake)

Telaga Warna
We were very lucky that our homestay were passed by the procession.


Actually, I recorded it as video, but I can't publish it yet...
And theeeen....even the Slovakia ambassador for Indonesia, Stefan Rozpokal and his daughter attended this ceremony.


The ceremony was held at Arjuna Temple Complex:
This kid had had his hair cut in the ceremony


This girl hasn't had her hair cut yet



There are several place in Dieng that I haven't visited yet like the most famous one: Kawah Sikidang, and I hope the next trip to Dieng, God will let me see the Sunrise at Sikunir :)