Pages

Wednesday, 12 April 2017

Tantangan 100 Hari (2)


Habis diskusi sama temenku yang ngajakin challenge 100 hari hidup sederhana makan ga lebih dari 30 ribu kalau di luar dan ga beli barang-barang fashion dan elektronik selama 100 hari. Selain itu selama periode itu, kami juga harus menghabiskan makanan yang ada di piring. Lebih menghargai makanan.

Guess what? Kami ketagihan, dan memutuskan menjadikan ini lifestyle.

Temenku sendiri mengaku dia bisa mengalihkan uang belanja fashionnya buat nolong orang lain. That is so inspiring! 

Next, kita komit untuk kalau mau belanja barang baru (misal baju), kita mesti donasiin 1 baju lama kita yang udah jarang dipakai.

Kita juga masih akan terus berjuang untuk ga buang-buang makanan walaupun makanan yang disajikan mungkin ga sesuai selera. 

Semua ini kami lakukan sebagai bentuk kepedulian kami terhadap lingkungan, value for money, dan gaya hidup konsumtif.

Kali ini sampai 31 Desember 2017!

So, wish us luck!



Tuesday, 11 April 2017

Tantangan 100 Hari

Kemarin, tepatnya 10 April 2017, aku dan seorang teman menyelesaikan challenge yang kami buat sendiri. Challenge ini kami lakukan karena terinspirasi dari sebuah artikel mengenai hidup sederhana dan bebas dari pengaruh perilaku konsumtif dan juga kepedulian kami terhadap lingkungan. 

Intinya, dalam tantangan ini, selama 100 hari pertama di tahun 2017 kami tidak boleh:
1. Tidak boleh belanja kebutuhan fashion dan elektronik
2. Tidak boleh makan di luar dengan harga lebih dari 30 ribu rupiah, kecuali 1x dalam semingggu.
3. Menghabiskan makanan yang sudah di atas piring.

Terdengar sederhana, tapi buat aku sendiri lumayan sulit, apalagi dengan gaya hidup perkotaan seperti Jakarta dan baru pulang kembali ke tanah air, di mana acara ketemuan dengan teman-teman lama hampir tiap hari terjadi dan pastinya mengharuskan makan di luar. Namun banyak pelajaran yang aku ambil dari tantangan ini, di antaranya:

1. Membunuh gengsi
2. Aku punya lebih dari apa aku butuh
3. Hemat coy!
4. Sehat
5. Ga terpengaruh sama iklan
6. Kreatif
7. dll (dilanjutin besok) heeheh!


Monday, 10 April 2017

Tidur

Aku ingin tidur
Tapi tidak dengan mendengkur
Hanya ingin tutup hari dengan bersyukur
Banyak berkat yang tak terukur

Meski tak tahu berapa panjang umur
Semoga kasihmu tak luntur
Jika aku berkata jujur
Maaf aku hanya ngelantur


Sunday, 9 April 2017

Jalan Sendiri (2)

Aku takut banget si orang itu nge-fly terus ga sadar dan berbuat macam-macam atau resiko lainnya, aku ikutan nge-fly pas dia buka pintu kamar mandi yang ada di kamar mandi (mungkin ga sih? ahahhah).

Yah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Aku lihat jam tangan udah jam 10.30 malam. Males banget sebenernya untuk keluar karena capek plus kalo malam gini pasti ujung-ujungnya makan. 

Aku berjalan menyusuri gang-gang tempat aku menginap. Sepertinya kawasan ini memang dirancang untuk tempat wisata kuliner. Menu Asia dan Eropa sepertinya cukup mendominasi. Salah satunya adalah restoran Indonesia. Sayang, dana tidak mencukupi, akhirnya aku memutuskan makan mie dengan beragam topping pilihan di stall Chinese food, style-nya seperti streetfood tapi rasanyaaaaaa...mantab jiwa! (mungkin karena nahan lapar plus lidah asia plus capek).

Makanan sudah habis, tapi aku masih belum berani pulang. Aku perkirakan aku pulang jam 12 malam agar di kamar itu sudah ada orang lain selain aku dan dirinya. Di seberang Chinese food stall itu ada McD. Langsunglah aku meluncur ke sana. Selain numpang duduk juga pengen numpang toilet. 

Waktu berjalan lambat sekali malam itu. Aku sudah bosan sekali duduk-duduk sendirian. Ah, tiba-tiba teringat adikku yang pesan tumbler Starbucks. Lumayan, malam itu jadilah aku pindah ke tiga tempat sebelum pulang ke hostel.

Setibanya di hostel, aku bersyukur yang lain sudah ada di tempat tidur masing-masing. Fiuuuhh! Untung aku hanya booking satu malam di situ. Sisa malam akhirnya kuhabiskan mencari penginapan lain untuk keesokan malamnya dan tidur dengan bau yang aneh dan di atas kasur yang menipis. 


Saturday, 8 April 2017

Jalan Sendiri

Aku tiba di stasiun Sloterdijk sekitar jam 7.30 malam, setelah sebelumnya menempuh perjalanan dengan bus dari Brussels. 

Sebenarnya aku sudah lelah sekali malam itu, seharian jalan kaki dengan membawa rucksack-ku kemana-mana di kota Brussels. Namun, google map menunjukkan aku butuh waktu 1 jam untuk mencapai penginapan. 

Well, mungkin karena selama ini sudah sering jalan kaki, aku anggap 1 jam itu jarak yang dekat, dan kupikir tak ada salahnya sekalian menikmati suasana malam kota Amsterdam. Aku mulai berjalan dan sepertinya tidak ada orang lain yang jalan kaki malam itu. Aku melewati bagian tengah kampus (yang aku lupa namanya apa)yang cukup sepi dan orang-orang bersepada lalu lalang. 

Di tengah jalan, aku mencari-cari restoran Indonesia yang katanya cukup mudah di dapat di kota Amsterdam. Aku ketemu beberapa. Berhubung sudah malam dan jalanan sepi, aku ragu apakah masih buka atau tidak. Lagi pula, aku pikir sayang juga masak sampai Amsterdam malam makan makanan Indonesia. Selang beberapa meter kemudian, ada sebuah kios yang menjual makanan Indonesia juga tapi dijajakan seperti di toko es krim dan para pembeli sepertinya take away.

Rasanya campur aduk malam itu, Dingin, lapar, capek (banget) dan ngantuk. Sempat tergoda mampir di restoran China juga, tapi mengingat uangku yang super pas-pasan aku urunkan niat. Oase di tengah perjalanan waktu itu adalah supermarket! Yeay!!! Aku bisa beli susu segar dan roti! 

Setelah keliling supermarket, aku takjub melihat kerupuk udang cukup murah di banding di mana aku tinggal. Restoran Indonesia dan China sudah kulewatkan, aku harus kasih reward lah untuk lidah asiaku. Setelah aku rasa cukup, aku membayar di kasir dan segera keluar. 

Aku sudah tak sabar makan kerupuk udangnya! Akhirnya aku buka dan makan sambil jalan kaki. Entahlah apa yang dipikirkan orang-orang yang berselisih jalan denganku tapi aku benar-benar tidak peduli.

Kakiku akhirnya sudah tak kuat. aku cari bangku-bangku di sepanjang perjalanan dan kutemukan tempat duduk di sebuah halte bis. Tak pikir panjang, aku duduk, dan istirahat sebentar. Karena sudah malam dan dingin, aku tak mau berlama-lama dan segera melanjutkan perjalanan lagi.

Sekitar jam 9.30 akhirnya aku tiba di hostel. Hostel ini baru kupesan sehari sebelum aku tiba lewat aplikasi booking.com. Aku tidak terlalu picky dalam memilih hostel. Yang penting murah dan ada dapur saja, itu prinsipku. Jadilah aku memilih rate paling murah dimana aku harus sekamar dengan 9 orang lainnya.

"Hello" sapaku.
"Hey! Are you from Indonesia? I've been waiting for you!" kata si Mas Penjaga Hostel.
"Yes, I am! But I currently live in Manchester." kataku.
"Oh I see...you're the most beautiful Indonesian staying in this hostel" doi mulai gombal.
"Bwahahaha...yes of course, I'm the only Indonesian here, I believe" aku mulai kesal karena aku cuma pengen kunci kamarku dan tidur.

Huft, setelah basa-basi panjang tentang Indonesia dan rencana si Mas Penjaga Hostel untuk traveling ke Indonesia, akhirnya aku bisa lolos masuk kamar. Aku dapat kamar di lantai 3, lantai paling atas. Huuuuuuuuuuuuuufft! lelahnya! 

Setibanya di anak tangga paling atas, aku agak bingung dengan penomeran pintunya. Tapi berhasil juga kubuka kamarku. 

Ku temukan seorang pria di dalam kamar dengan 10 tempat tidur itu. Sekedarnya kusapa dia, dan kupilih tempat tidur yang paling dekat dengan pintu keluar. Awalnya, aku pikir si cowok ini sedang re-packing. Lama-lama aku curi-curi pandang sepertinya dia sedang persiapan mau nge-ganja. 

"Oh damn! I'm so tired!" pikirku dalam hati. Aku juga bingung mesti apa waktu itu. Sepertinya dia berharap aku keluar kamar dan dia bebas beraktivitas. Setelah sekian menit, dia bertanya 

"Do you wanna use the rest room?"

"No..no...I'm Ok!" Jawabku.

Akhirnya masuklah dia ke kamar mandi dengan segala perlengkapannya dan aku mulai deg-degan...


--------cont'd----------

Keramik

Keramik-keramik mahal duduk dengan anggun di rumah-rumah orang kaya (well, at least menengah). Selain indah, harganya juga ngga murah. Tapi, pernah lihat orang membuat keramik dari tanah liat?

Tanah liat yang coklat dan jelek itu di banting-banting, di puter-puter, di kasih air biar gampang dibentuk, di bakar, dicat, dan dikeringkan baru bisa punya nilai tinggi. Semakin ribet bikinnya, semakin indah jadinya,

Manusia juga kayak gitu kali ya? Mesti dibanting kegagalan, diputer-puter sama kejadian menyenangkan dan menyedihkan, disiram sama penyesalan biar hatinya agak lembut, di bakar pengalaman, dicat pakai pengetahuan biar makin kece?

What a random night!



Thursday, 6 April 2017

Solitude

I found myself climbing up to the rocky hill, surrounded by tosca water
No one was there
My view was so wide
Blue, white, and green are the palette of the view

The wind gently touched my cheek and blown my hair
I closed my eyes
From far away, I heard the birds were playing around
I took a long breath in, and breath out
The fresh energy filled up my soul, and let the bad one go

My soul kept wondering how great His art,
I recorded that moment in my mind,
So, I could re-visit it again, and again
No matter how messed up my day 
I climb the hill to have my quite time