Pages

Saturday, 1 April 2017

Si Daffodil

Kalau sedang rindu UK begini, aku suka membayangkan sedang musim apa dan suasana alam di sana. Saat ini, UK sudah memasuki musim semi. Musim paling indah buat negara dengan 4 musim. Setelah penantian panjang dari musim dingin yang gloomy dan bikin depresi. 

Bunga daffodil, atau dikenal juga dengan Narcissus sekarang pasti sedang bangga-bangganya nampang di mana-mana. Di jalanan, di taman, di halaman rumah, di vas bunga coffee shop bahkan waktu itu sempat nemu gambarnya jadi dekorasi pintu toilet umum. 

Temanku pernah cerita bahwa sebenarnya di Daffodil atau si Narsis ini sebenernya tidak mati waktu musim-musim lainnya. Akar bonggolnya tetap hidup di dalam tanah, tapi keluar dan berbunga di musim yang tepat. Well, this is pretty much inspiring for me in pursuing a dream. Seperti Daffodil, kita mungkin tidak akan terlihat indah sepanjang waktu. Ada masa-masa kita merasa kering, layu, bahkan kelihatan mati. Tapi, seperti Daffodil juga, jangan sampai mimpi dan passion kita mati, apalagi karena perubahan di lingkungan kita. Just keep your dream burning deep inside your heart. Suatu hari, pada waktunya, mimpi itu  mungkin akan jadi nyata, berbunga indah dan dinikmati banyak orang.  

Sumber: https://www.gardenia.net/rendition.slider_detail/uploads/plant/1430569955-8f415281447211a30/206389.jpg


Wednesday, 25 January 2017

Jadi Minoritas adalah Kesempatan

Atasan saya (Inge Inkiriwang) dulu sering bilang "I see opportunity as minority". Beliau adalah atlet sepeda perempuan pertama dari Sumatra Barat yang mewakili Indonesia di ajang olahraga Sea Games. Beliau sendiri bukan orang asli Sumatra Barat yang berpenduduk mayoritas Muslim, melainkan campuran Minang-Chinese-Manado dan beragama Kristen. Namun, meskipun minoritas justru beliau sangat mencintai Sumatra Barat.


Source
Setelah hampir setahun lebih berpisah, saya baru merasakan apa yang dimaksudkan beliau. Akhir-akhir ini dunia dan Indonesia sedang dilanda keresahan akan diskriminasi dan prejudice, yang menimbulkan kecurigaan dan kebencian antar kelompok. Yang minoritas merasa terdiskriminasi, ada pula mayoritas yang merasa terancam akan keberadaan kaum minoritas dan malah merasa lebih minoritas daripada yang sebenarnya minoritas. 

Pengalaman saya hidup di luar negeri dan melakukan perjalanan sendiri justru mengajarkan saya betapa powerful-nya menjadi minoritas. Di kelas saya adalah orang Indonesia satu-satunya. Di beberapa kesempatan voluntering saya juga menjadi satu-satunya orang Indonesia. Demikian pula ketika saya melakukan solo-travel ke beberapa negara di Eropa, saya bertemu, berkenalan, dan berbicara dengan begitu banyak orang dari berbagai negara dan tidak satupun orang Indonesia yang saya temui di hostel maupun perjalanan. Lalu, apa untungnya?

"You are my first Indonesian friend!" itu kalimat yang sering terlontar dari mereka. Saat itu lah saya merasa benar-benar menjadi duta Indonesia. Saya juga bangga saya bisa menceritakan Islam yang positif kepada mereka yang hanya melihat Indonesia dari kasus terorisme dan demo FPI. Di suatu hari, saya juga secara random ikut free walking tour di Amsterdam, dan tour guide saya menyarankan kami untuk mencoba makanan Indonesia dan jadilah saya mengajak mereka mampir ke restoran Indonesia setelah tour berakhir. 

Di kesempatan lain, saya diundang untuk tinggal beberapa hari bersama keluarga Inggris. Hampir setiap malam, saya dan si Bapak ngobrol hingga larut dan kami membahas tentang fenomena minoritas-mayoritas yang terjadi di berbagai belahan dunia. Kami sepakat, bahwa mungkin terkadang prejudice dan perilaku cepat menghakimi disebabkan karena mereka memang tidak pernah bergaul personal dengan orang-orang yang mereka anggap minoritas dan mengancam keberadaan mereka. Saya terhenyuh saat si Bapak bilang begini "kamu tahu, di umurnya (sang istri) yang sekarang sudah 70 tahun lebih, baru kali ini dia bisa begitu dekat dengan orang yang berbeda ras dan budaya." 

Jadi, menjadi minoritas itu bukan ancaman, melainkan kesempatan. Dengan pertemanan yang tulus, kamu justru punya kesempatan besar untuk menjadi duta kelompok dari mana kamu berasal.

Sunday, 6 November 2016

Saya dan 411

Adakah yang pernah bertanya bagaimana pendapat seorang non-Muslim seperti saya dalam memandang wajah Islam setelah kejadian 411? 

Mari kita simpan dahulu pertanyaan ini. 

Beberapa hari kebelakang adalah fenomena yang sangat menarik, kontroversi di mana-mana, yang menurut saya tidak perlu naif untuk dihindari. Disonansi kognitif terjadi, pergulatan sebenarnya tejadi di dalam diri kita sendiri. 

Bagaimana pergulatan yang terjadi dengan saya? 

Konflik saya tentang Ahok

Tidak usah bicara soal kebijakan yang kontroversi, karena itu biasa dan dapat terjadi di semua pemimpin. Tulisan ini, berangkat dari permasalahan awal Ahok yang dianggap menistakan agama Islam. Reaksi saya saat pertama kali mendengar adalah malu. Sangat malu. Pasalnya, saya tahu beberapa kali ucapan-ucapan Ahok di beberapa kesempatan sangat menggambarkan apa yang saya imani secara Kristiani. Tapi di lain sisi, saya sedih dan malu ketika beliau sudah mengeluarkan kata kotoran manusia itu.  Saya patah hati. 

Namun teringat postingan seorang teman jauh sebelum kejadian ini: "we just sin differently". Ini obat pergulatan saya yang pertama. Saya berusaha membaca berita, pendapat orang-orang yang pro dan kontra, termasuk mencari tahu klarifikasi beliau sendiri soal gaya bicara ketika marah dan soal penistaan agama. Yang banyak membantu saya dapat perspektif lain adalah video ini (tentang gaya bicaranya) dan video ini (tentang si penistaan agama). Saya mendapati bahwa beliau punya alasan melakukan itu semua, tapi saya juga belajar dari beliau tentang tidak berkeras hati untuk dikoreksi. Konflik saya dengan diri saya sendiri tentang Ahok sudah selesai. Saya merasa beliaupun sudah melakukan apa yang beliau seharusnya lakukan, setidaknya sampai hari ini.


Konflik saya tentang Islam

Dari masa saya bersekolah, selama bertahun-tahun saya mengalami diskriminasi dari orang-orang yang sudahlah senior, mayoritas pula. Mungkin tidak disadari oleh orang-orang di sekitar saya yang juga mayoritas. Kalau mengorek-ngorek sakit hati saya, saya sangat rentan provokasi. Tapi saya sudah selesai dengan itu semua, khusunya sejak momen-momen 2 tahun lalu lewat komunitas yang bernama Gerakan Mari Berbagi, yang saya ceritakan di sini dan di sini. Saya sudah berdamai dan sudah move on. Ah, apa betul ya? 

Ketika sebagian orang bangga akan kesatuan umat yang turun saat 411. Sebaliknya, saya mengamati teman-teman saya yang sama-sama Muslim berdebat tentang pendapat mereka cukup panas. Beberapa ternyata juga gelisah tentang wajah Islam atau juga agama secara umum yang ditampilkan lewat fenomena ini. 

Yang paling membuat saya ikut sedih, tiba-tiba seorang teman kirim pesan begini:
"Apa aku salah kalo aku ga setuju ama tindakan itu, kok banyak orang sampe segitunya, apa agama aku jelek, tapi hati nurani bilang ga bisa ngejudge ahok ampe segitunya, (bahkan ngejudge salah yang demo pun apa harus nya jangan) ðŸ˜ž sedih" 

Jadi kembali, ke pertanyaan semula, apakah saya jadi memandang Islam itu jelek setelah semua ini? 
Jawabannya tegas: TIDAK. 

Saya harus berterima kasih kepada teman-teman Muslim yang masih berteman baik dengan saya, melalui teman-teman ini membantu saya berdamai juga dengan diri sendiri. Buat saya, pertemanan pribadi hari demi hari dengan mereka adalah 'dakwah' yang paling berarti, dimana saya merasakan damai melalui pertemanan dengan mereka. Bukan kah damai itu bukan sekedar judul, tagar, atau tulisan motivasi, melainkan harus dialami? 

Dalam tulisan ini, saya berulang-ulang menulis tentang hati dan damai dengan diri sendiri. Menurut saya, semua hal buruk di dunia ini terjadi karena kita belum berdamai dengan diri sendiri. Korupsi terjadi karena tidak berhasil bedamai dengan kepuasan diri. Pemerkosaan terjadi karena tidak berhasil berdamai dengan nafsu syahwat diri. Pembunuhan terjadi karena tidak berdamai dengan kedengkian hati. Permusuhan, iri, dendam, sakit hati terjadi karena tidak berdamai dengan harga diri sendiri.

411 adalah aksi damai. Semoga itu benar dan terus berlanjut hari demi hari. Terutama berdamai dengan diri sendiri. 

Jadi bagaimana dengan kamu, sudahkah berdamai dengan diri sendiri?

Damai di hati, damai di bumi :)


Saturday, 30 July 2016

Second-hand Fashion

Couple days ago, I did web-surfing and found some interesting pages about consumerism, fashion, and environment. This video also makes me think thousand times to buy a new thing that I don't really need.



I was stumbled upon a page suggest second-hand shop as one strategy we can employ to fulfill our fashion need but respect the environment at the same time; and find myself very happy because I'm actually a fan of second-hand shops and admire vintage fashion (I mean I love seeing them but t-shirt, jeans and sneakers are the ones who understand me well). We also know it as charity shop or op(portunity) shop or thrift shop.

Thus, I wanna share a bit of my wardrobe's residents that I adopted from second-hand shops. It's noteworthy that most of them cost only 99p or IDR 17.000 per piece! Well, some of them I bought here, but some of them I bought many years ago in Indonesia. Compare to Indonesia, second-hand shop in the UK or Aussie (particularly Brisbane), they really take care the shops and it's really well-organized. Most of the staffs are volunteers. The profit also usually goes to charity.

In contrary, in Indonesia you can find a very big second-hand market but sometimes you have to dig into the piles to find your treasure. It's also profit based. It's been one of my dream that we can have this kind of charity-shop in Indonesia. 









In those pictures, I wear the same shoes. I just realize that actually I can go with only one pair of shoes for all of my clothes, why should buy many other pairs? Hahaha.

Well, overall, shopping in second-hand shop bring me a lot of happiness, tho. What is more exciting than buying beautiful outfit without throwing up much money, taking care of the environment and donating at the same time?


Enjoy the weekend folks!

Monday, 13 June 2016

Sehari Jadi Orang Inggris

Ga berasa banget ternyata terakhir ketemu Geoff & Olive udah sebulan lalu. Hari ini berkesempatan lagi berkunjung ke rumah mereka dan yang berbeda hari ini adalah I feel so British!!!




Kenapa?

Bangku jemaat menghadap mimbar
1. Pagi ini Geoff jemput saya di dekat rumah dan lalu kita gereja bareng di sebuah gereja kecil di sekitar Woodford. Sayang, Olive ga ikutan karena nyipain makan siang dan dessert buat kami di rumah. Gereja ini bernama Christ Church dan sudah berusia 175 tahun. Saya suka sekali gereja ini, karena benar-benar berbeda dari gereja-gereja yang sebelumnya saya kunjungi soalnya gereja ini bernuansa Georgian style. Untuk masuk ke tempat duduknya ada pintunya. Agak nyesel juga ga sempat foto tempat duduknya karena segan. Selain itu, paduan suara dan pemain musik ada di belakang bangku jemaat dan posisi mereka lebih tinggi di banding bangku jemaat.


2. Di gereja, para jemaat menyanyi lagu kebangsaan Inggris: God Save Our Queen! Senang sekali bisa ikutan. Setelahnya di rumah, Olive cerita bahwa dia sangat kagum dengan Queen Elizabeth II, karena menurut beliau Queen Elizabeth tidak pernah berkata buruk, pemimpin yang baik, dan sangat faithful. Keberuntungan saya hari ini adalah saya dapat buku gratis tentang Queen Elizabeth II dalam rangka perayaan ulang tahunnya yang ke-90. Oh ya, Queen Elizabeth II sebenarnya lahir di bulan April, tapi karena mereka ingin perayaan di musim yang lebih baik, jadi diadakan perayaan di bulan Juni juga. Eh malah cuaca di Manchester tetap buruk. Kabarnya di London juga ga terlalu bagus :(

3. Setelah gereja, kami pulang ke rumah dan makan siang. Ada Andrew di sana (anak bungsu Geoff and Olive). Andrew bersama tim paduan suaranya akan tampil di sebuah perayaan ulang tahun Queen Elizabeth II di Hale Village. Paduan suaranya keren tapi sayang karena di ruang terbuka jadi kurang megah di banding dalam ruangan. Di sana ada tenda penjual Pimm's. Kata Geoff dan Olive Pimm's itu Inggris banget! Jadilah Geoff traktir minum Pimm's dan waktu penjualnya tahu bahwa saya dari Indonesia kita langsung di kasih bendera Inggris. 


4. Hari ini mendung dan bolak balik hujan. Jadi kami ga berlama-lama di sana. Setelah Andrew selesai tampil, kami pulang ke rumah karena ada dessert spesial yang sudah dibuat Olive. Sayangnya, saya lupa namanya! Tapi ada sesuatu yang crunchy yang terbuat dari putih telur dan gula, lalu dilapisi whipped cream dan stroberi yang banyak. 
Andrew dan tim paduan suara, Mereka ga muat di panggung..hehehe....Btw panggungnya itu mobil truck.





5. Sambil makan dessert, kami nonton Garden Party Parade yang diselenggarakan di Buckingham Palace, London. Saya tadinya pengen banget bisa ada di sana, tapi setelah lihat, kayaknya mendingan nonton di TV deh. Olive ternyata pernah diundang ke Garden Party-nya Queen dan disapa oleh Queen. Waktu itu, Olive kerja di sebuah lembaga charity yang mendapat penghargaan dari Queen. Geoff sendiri waktu muda pernah menjadi Queen's Scout. Keren parah pasangan ini!



Mencoba cultural things kayak gini jadi sesuatu yang selalu saya cari. Ketika berinteraksi dengan orang lokal, selalu ada pengetahuan baru, pandang baru, dan kebiasaan baru yang saya amati dan pelajari.

Till next story!


Monday, 9 May 2016

Geoff & Olive

Semua bermula dari kegiatan volunteering bersama International Society di Manchester. Beberapa kali ikut volunteering sepertinya bikin nama saya diingat sama koordinatornya - Sam Harris. Hingga suatu hari, Sam mendapat undangan dinner dari Bramhall & Woodford Rotary Club yang pengen ngajakin beberapa mahasiswa internasional untuk cerita tentang negaranya di BW - Rotary Club dinner.

Malam itu sangat menyenangkan, kami diperlakukan kayak raja dan ratu. Padahal member dari Rotary Club ini adalah pensiunan yang berasal dari kalangan atas. Mendengar cerita pengalaman mereka, wah saya benar-benar merasa kecil.

Saya adalah orang yang percaya bahwa ada pelajaran yang ditorehkan dari setiap pertemuan. Demikian pula pertemuan saya dengan Geoff Hunt, yang menjadi host saya di Rotary Club dinner malam itu. Setiap mahasiswa diberikan 1 host untuk mendampingi kami selama acara. Geoff bersama istrinya, Olive datang malam itu and voila! I got two hosts automatically! Geoff dan Olive hangat sekali dan sangat excited mendengar cerita saya. (Cerita tentang BW - Rotary Club dinner akan saya tulis lain kesempatan :)

Singkat cerita, Geoff dan Olive meminta nomor telepon saya dan mengundang saya untuk datang ke rumahnya dan makan siang bersama. Wah, saya tentu saja sangat excited! Telepon yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang, dan hari ini mereka menjemput saya ke rumahnya. 

Geoff dan Olive dulu pernah lama tingga di Pulau Bermuda. Pengalaman dan perjalanannya terlalu panjang untuk diceritakan. Terlalu banyak juga kebetulan yang terjadi saat kami bertukar cerita kali ini. Olive dan saya ternyata sama-sama suka warna biru. Cucu Geoff & Olive yang tinggal di Amerika mengambil jurusan psikologi. Saya bertemu Andrew, anak kedua mereka yang ternyata berulang tahun di hari yang sama dengan saya. Ternyata tanggal ulang tahun kami, hanya sehari sebelum tanggal pernikahan  Geoff dan Olive. Ah, saya kagum sekali betapa Geoff dan Olive saling menjaga dan mengasihi. Tidak ada kata-kata mesra atau panggilan sayang yang saya dengar dari mulut mereka. Tapi setiap tindakan dan nada bicara mereka entah kenapa benar-benar terasa sangat romantis buat saya. Saya bilang ke mereka bahwa mereka adalah pasangan yang ideal dan sangat manis. Geoff dan Olive tertawa.

Kali ini saya benar-benar terharu, karena ternyata Geoff dan Olive sudah merencanakan beberapa hal buat saya. Geoff & Andrew membawa saya berkeliling ke taman di dekat rumah mereka yang sebenarnya menjadi salah satu "treasure" di Inggris. Taman ini memiliki hall dan usianya sudah sekitar 500 tahun. Kami berjalan lumayan jauh, saya khawatir Geoff terlalu letih, tapi beliau malah tak henti-hentinya bercerita. Geoff juga mengajarkan saya banyak nama bunga liar yang tumbuh di taman. Beberapa yang saya ingat: White garlic, daisy, cow parsley, bluebell, marigold, dandelion, forget-me-not, rhondodenron, dan shrinking violet.

Setelah berjalan keliling Bramhall Park, kami makan siang di rumah yang telah disiapkan Olive. Setelah makan, ternyata saya dibawa ke tempat lain, yang mungkin tidak pernah saya kunjungi kalau tidak bertemu mereka. Kami mengunjungi daerah bernama Alrderly Edge. Katanya banyak orang-orang kaya seperti pebisnis dan football player yang tinggal di daerah ini. Kami mengunjungi woodland area yang sebenarnya adalah bekas tambang. Saya terkesima melihat bagaimana mereka merawat dan mengembalikan alam yang tadinya sudah ditambang. Benar-benar seperti hutan kembali. 

Setelah berjalan mengelilingi woodland, kami membeli es krim dan terasa sangat nikmat di hari yang cerah dan panas untuk ukuran Inggris. Saya melihat Geoff dan Olive, mereka sangat antusias walaupun saya tahu mereka pasti sangat lelah berjalan. Saya mendengar nafas Geoff dan Olive sebenarnya sudah tersengal-sengal, namun herannya tetap bersemangat bercerita. Ah, saya tidak berhenti tersenyum hari ini. Hari ini akan menjadi hari yang selalu saya ingat seumur hidup saya. 












Sunday, 1 May 2016

Empty

Twenty years ago, I was naked and crying for the first time I breathed in the air You gave.

Today, with a naked and crying heart, I come to You.

Countless times, I blamed on human and my own faults 

With my own strength, I kept searching for success and achievement to fulfill and satisfy my empty heart.

Then I realize that all those hard works were useless. My heart just simply needs You.

While human often see my laugh and success; You are the only One who understands the reason of every single drop of my tears even more than myself.

You are the only One who holds my hand in every single step I make on rocky roads, hugs me in thunder storm, and keeps your eyes on me in all seasons.

Here I come to You, Lord! 

I surrender my blind eyes, my deaf ears, my weak hands and feet and sinful heart.

Let my life be yours, forever.

The pot was shaping from the clay was marred in his hands; so the potter formed it into another pot, shaping it as seemed best to him. (Jeremiah 18:4)