Pages

Monday, 16 September 2013

[A review] The Internship: Funny yet Inspiring Movie

Untuk beberapa orang, nonton sendirian di bioskop adalah hal yang aneh. Sayangnya (atau untungnya) itu ga berlaku buat gue. Biasanya, kalo udah merasa bosen, pulang kantor suka melipir ke bioskop terdekat buat nonton, tapi kali ini gue mencoba tantangan baru: nonton sendirian pas weekend ;p Berkat rasa penasaran dan rasa bosan, hari Sabtu siang gue melangkahkan kaki ke XXI Setiabudi One Building untuk nonton film The Internship. Pas pertama denger judulnya dan baca sekilas reviewnya, hmm kayaknya film ini agak serius. In fact, I was surprised a lot while watching this film.

Tokoh utamanya adalah Nick dan Billy yang sehari-harinya bekerja sebagai salesman jam. Ceritanya si Nick dan Billy kehilangan pekerjaannya karena perusahaannya  tutup. Suatu malam, si Billy nyari-nyari lowongan lewat search engine: Google. Karena ga dapet-dapet lowongan yang diharapkan (ya iyalah wong keywordnya: job which doesn’t need skill), si Billy mantengin halaman search engine itu dan AHA!! si Billy dapet ide untuk ikutan internship di Google.
Si Billy lalu membujuk si Nick untuk ikutan interview internship ini. Gilak konyol banget interviewnya! Masa si Billy ama Nick minjem komputer perpustakaan buat ikut intervew lewat Google Hangouts. Sebenernya, dari proses interview itu duo Billy & Nick ga oke deh buat diterima, tapi berkat argumen seorang tim program internship ini yang melihat sisi lain keanehan Billy & Nick, mereka akhirnya di terima magang. YEAY! Semua anak-anak internship ini disebut Nooglers. Keren ya?! Si Billy & Nick mesti gabung sama anak-anak muda super cerdas selama magang dan mereka terlihat aneh dan..ehm..tua…hahaha.. .

Satu hal lagi yang gue suka dari film ini adalah gambaran tentang kantor Google. Sampai sekarang gue menganggap Google is the best workplace in the world, dan itu tergambar di film ini.

Hmm, ngebosenin sih nyeritaiin jalan ceritanya disini. Yang jelas, ini film kocak banget!!! Ngakak mulu deh.. RECOMMENDED TO WATCH!! Yang bikin tambah keren lagi, ini film banyak banget pelajarannya.
Ini beberapa quotes keren yang gue dapet dari film ini:

Time, you can't fight it. You cant control time, but you can manage it.
I didn't play smart. I play safe. Look the result now (Billy's regret)
Make reasonable choices!
Good luck! But it's not luck what you need. Good work! (Mr. Chetty to the Nooglers)
Sometimes, the most radical way is just being yourself.
What is it in the world frighten us the most? Changes!

So, kalau lagi suntuk butuh sesuatu yang kocak, you should watch this film it will make you laugh and encourage you at the same time ;)

Oh ya, satu lagi, nonton sendirian hari Sabtu siang sih ga terlalu mengerikan ternyata. Mungkin kalau agak malem, mesti lebih kuat mental ya ;p Buat yang penasaran rasanya nonton sendirian, ada plus minus-nya dibanding nonton sama temen-temen, may be you should try it once at least ^^


Thursday, 12 September 2013

Soul Surfer: I don't need easy. I just need possible!


Ga ada request khusus, tiba-tiba beberapa bulan lalu, Kak Rani (rekan kerja) bawa beberapa DVD di dalem plastik hitam, "Nih Pid.."

Lah, aku bingung, perasaan ga bilang mo minjem DVD.
"Bawa aja, gue udah nonton."
Yah, namanya tong sampah, terima-terima aja lah...lumayan pengisi waktu luang ;p

Lumayan lama juga tuh plastik ga kesentuh di kamar, sampe pas suatu Sabtu yang buntu dan kelabu, akhirnya terpaksa nonton DVD karna ga ada kegiatan menarik lain (dan ga ada duit juga kayaknya). Setelah cap cip cup, terpilihlah film yang berjudul 'Soul Surfer' yang kalo pinjem istilah temen 'Uwooowsome' (saking awesome-nya)

Jadi. film ini bercerita tentang kisah nyata seorang surfer wanita bernama 'Bethany Hamilton'. Dia besar di keluarga yang juga merupakan surfer atau peselancar, jadi sejak kecil sudah diajarkan surfing. Cerita di film ini adalah cerita tentang Bethany di usia 13 tahun. Bethany sangat berbakat sampai-sampai ada  perusahaan yang mensponsori Bethany dan sahabatnya (Alana) untuk ikut kompetisi bergengsi untuk surfer remaja perempuan. Tapi, suatu hari, Bethany kehilangan tangan kirinya (literally) karena digigit seekor hiu. Gimana ceritanya? Silakan tonton sendiri ya..hehe

Lalu gimana kompetisinya? gimana masa depan Bethany? 
Hooaahh...not easy at all lah ya pastinya, tapi itu momen-momen penuh pelajaran. Waktu itu, ngebayangin kalo aku yang jadi Bethany, hmmm....kayaknya ga bakal kuat :'( 
Oh ya, pas tau ternyata di dunia nyata Bethany yang sebenernya cuma beda 2 bulan usianya denganku, makin tercengang...keren banget nih orang...

Berikut beberapa potongan yang berkesan dari film ini:

It's hard to look at things that are too close. 
Sebelumnya kejadian Bethany kehilangan tangan kirinya, Sarah (pembimbing remaja di gereja) mempertontongkan video sebuah benda (kalo ga salah otak), tapi benda tersebut diperlihatkan dari sudut pandang yang dekaat sekali, dan para remaja yang ada disitu diminta menebak benda apakah itu. Emang iya sih, bentuknya jadi aneh dan agak menjijikkan. Gambar otak itu terlihat sangat jelek ketika dilihat dari jarak yang sangat dekat, tetapi ketika kita memandangnya secara keseluruhan, kita baru menyadarai bahwa itu adalah gambar otak yang sangat vital bagi hidup kita. Begitu juga dengan kehidupan si Bethany pasca kejadian ia kehilangan tangannya. Bethany dateng ke Sarah dan bilang dia ga ngerti apa maksudnya Tuhan dan kenapa hidupnya harus begitu (ini scene yang nyeseeeeekkk bangeet!!!!). 

I don't need easy. I just need possible.  
Kalimat ini diucapkan oleh Bethany, saat udah berulang kali mencoba nyoba latihan dasar tapi selalu gagal. Bahkan ayah, ibu dan saudara-saudara Bethany tidak tega melihat Bethany terhempas-hempas di laut saat tak mampu menggunakan papan selancarnya. Bethany tidak menyerah! padahal dia juga tak tahu pasti sampai kapan dia harus berlatih. Kalo gue yang ada di scene itu, mungkin kalimat yang keluar adalah It's impossible, maybe surfing isn't my way, I should find another. 

I could never embraced this many people with two arms.  
Perjuangan Bethany untuk bangkit lagi menginspirasi banyak orang. Apakah dia menang dalam kompetisi surfing? Nope! tapi itu yang diungkapkan Bethany saat media wawancara setelah kompetisi. Dia bilang dia bersyukur telah kehilangan salah satu tangannya dan melewati masa-masa sulitnya. Dengan kisah hidupnya, Bethany bisa meyakinkan orang-orang bahwa mereka masih punya harapan  ditengah seburuk apapun kondisi mereka

Kalau mau tau lebih lanjut tentang Bethany Hamilton, please kindly visit and explore this page:

Sekarang, Bethany sudah menikah loh, dan cerita cintanya pun AWESOME :))

Back to film review, intinya film ini keren banget dan masih buaaanyak cerita dan insight yang belum terurai di halaman ini. So, happy watching! ^^




Tuesday, 27 August 2013

Secuil Rasa dari Balik Layar Jambore Sahabat Anak 2013

Tulisan ini merupakan isi sebuah surat  untuk memenuhi permintaan seorang sahabat yang sedang bertugas di sebuah desa bernama Lamdesar Barat, Maluku Tenggara Barat.

Januari 2013, tahap baru dalam kehidupanku, dimana aku menyudahi masa baktiku di sebuah perusahaan yang menurutku bukan tempat yang tepat bagi diriku. Di masa-masa aku mempertanyakan kembali keputusan tersebut, kesempatan itu datang lewat seorang seniorku di kampus, yang ketika di kampus juga secara tidak langsung mengajarkan aku menenai visi dan misi hidup. Kak Hanna. Di saat itu, sahabat yang akan ku surati ini lah yang meyakinkan aku juga untuk ikut terlibat disini.

Delapan bulan yang luar biasa sejak Januari hingga Agustus 2013, aku bertemu dan belajar dari orang-orang yang terlibat di Hari Sahabat Anak dan Jambore Sahabat Anak XVII. Tim acara yang sangat bersahabat, panitia besar, pengurus harian, pengajar-pengajar area, dan anak-anak. Rangkaian acara yang cukup panjang dengan sumberdaya yang terbatas.

Banyak kesulitan yang kami hadapi, tapi tidak usah aku ceritakan, apa saja yang kami hadapi, karena kesulitan dan masalah sepertinya adalah hal yang mutlak ada dalam mempersiapkan acara seperti ini.  Ada 2 hal yang menjadi kesimpulanku dari 8 bulan persiapan ini;
  • Pertolongan Tuhan itu cukup dan tepat waktu
  • Masih banyak orang yang peduli. Jika kita banyak mengeluh tentang negeri ini, mungkin justru itu karena kita kurang banyak berbuat.

24 – 25 Agustus, acara puncak dari semua rangkaian kegiatan yang kami lakukan akhirnya tiba. Sesi demi sesi terlewati, dan setiap prosesnya memberikan aku banyak pelajaran berharga. Panitia beserta steering committee dan tim kerja, pengisi acara, volunteer-volunteer pendamping, terutama adik-adik saling menginspirasi di acara Jambore Sahabat Anak. Rasa lelah berdiri, berlari, berpanas-panasan, rasa lapar dan haus tersiram lenyap tiap kali melayangkan pandangan ke hampir 1000 anak dan 500 pendamping berkaos oranye di Bumi Perkemahan Ragunan saat itu. Selama ini, ketika aku menjadi panitia inti atau seksi acara sebuah kegiatan, jarang sekali aku bisa menikmati acaranya karena terlalu fokus pada persiapan teknis dan rundown. Tapi kali ini berbeda, hampir tiap detik berharga bagiku. Walaupun kakiku sangat sakit, hatiku tak berhenti bersyukur. Lewat tulisan ini, aku ingin merekam beberapa momen yang tidak dilihat di atas panggung atau di pos-pos kegiatan, tapi terjadi di parkiran, di samping panggung, dan di bawah pohon.

Sesi Tukar KADO di sore hari Sabtu, sesi yang aku tanggungjawabi ini adalah sesi dimana 23 atlet Special Olympic Indonesia (anak-anak penyandang down syndrome dan tuna grahita) mengunjungi 25 tenda-tenda adik-adik peserta Jambore dan sharing mengenai kesulitan dan prestasi mereka, mereka juga memperagakan olahraga Bocce yang mereka tandingkan di olimpiade untuk anak-anak dengan diffable (different ability). Aku pikir aku tak akan punya kesempatan untuk mendengarkan sharing mereka karena harus keliling tenda dan sesekali berdiri di tengah lapangan kalau-kalau ada yang membutuhkan bantuan. Setelah acara sharing selesai, aku mengantarkan teman-teman SOIna ke parkiran. Ketika tiba di dekat parkiran, tiba-tiba ada seorang anak SOIna bilang “Kak, aku seneng banget hari ini, lain kali kalau ada acara ajak-ajak ya Kak”

Darah aku berdesir deras lalu menahan tangis ditengah fisik yang udah capek banget hanya tidur 3 jam dan ketika itu sudah sekitar jam  6 sore. Aku melirik nametag-nya. Oh, namanya David Paul.

Malam harinya, tibalah waktunya panggung hiburan. Penampilan pertama adalah panggung boneka dari Team Ceria. Penampilan yang sebelumnya tidak direncanakan dan baru diputuskan 3 hari sebelum hari H. Itupun karena Ka Filia (salah satu pemain) membantu aku mencari pemain sulap yang akan mengisi salah satu workshop. Pertimbangan panitia menampilkan panggung boneka di awal, karena takut kehilangan euphoria anak-anak karena sebelumnya diisi oleh musik dan gerak. Semua itu ternyata tidak terbukti. Panggung boneka sangat seru, meriah, sama sekali bukan sesuatu yang sepi, bahkan kalaupun diletakkan di akhir acara tidak akan membosankan. Di dalam hatiku aku terharu, sementara mataku menatap seribuan tawa anak-anak dan para pendamping yang sedang menonton. Lima belas menit berlalu, durasi habis, dan kami membereskan perlengkapan panggung boneka. Sebelum tim panggung boneka pergi karena harus ke acara lain, aku menyerahkan amplop berisi pengganti transportasi untuk pengisi acara. Yang aku dapati penolakan. Penolakan yang berbeda yang aku hadapi selama persiapan sebelum hari H, dimana para pengisi acara workshop dan acara lainnya menyatakan ‘tidak bisa’, ‘belum bisa dengan dana segitu’, ‘kalau untuk 1000 anak, kami belum sanggup’, atau bahkan tidak ada respon. Namun, kalimat yang aku dapat kali ini ‘Ga usah Pid..inilah pelayanan kami...kembaliin untuk Sahabat Anak aja’.....serius, air mataku sudah hampir keluar, tapi Ka Filia mengingatkan.

Pengisi acara satu per satu tampil, Rainbow, Peduli Musik Anak, Rubato, semua dengan keunikan dan keseruan masing-masing membawa keceriaan malam hari itu. Setelah lagu Bangun Pemuda Pemudi yang kami nyanyikan dengan lantang bersama band Rubato, acara malam ditutup, panitia kembali dengan persiapannya.

Minggu pagi, tanggal 25 Agustus, jam 5 lewat anak-anak sudah banyak yang menunggu di depan panggung utama untuk senam pagi. Luar biasa semangat mereka. Acara games berlanjut setelah sarapan, kemudian penutupan setelah makan siang. Momen besar bagi 10 proyek terbaik KADO (Karya Anak Indonesia), karena akhirnya di siang itu kami semua mengetahui siapa 3 besar dan juara favorit proyek yang dilakukan selama 3 bulan ini. Setelah diumumkan para pemenang, seketika rasa haru berkecamuk di hati melihat kakak-kakak pendamping berpelukan sambil menangis bersama adik-adik, bahagia karena kerja kerasnya berbuah manis. Di kepalaku terputar memori saat-saat persiapan mereka. Tak jarang aku mendapatkan sms malam hari, mendapat laporan bahwa kelompok X sedang berkumpul mempersiapkan proyeknya. Belum lagi saat mengunjungi launching proyek-proyek ini, melihat sendiri tempat belajar mereka, melihat semangat adik-adik dan mendengarkan perjuangan kakak-kakak pendamping. Mereka semua hebat! Menang atau tidak menang.

Mendengar langsung dari para pengisi acara, fasilitator, dan teman-teman lain bahwa mereka terinspirasi dari anak-anak ini juga jadi penawar rasa lelahku. Sebelumnya di sesi games, ada adik yang tiba-tiba nyeletuk “Ih iya Kak, mereka (teman-teman SOIna) hebat banget! Mereka sampe tanding ke luar negeri. ” Ah, ternyata setiap orang saling menginspirasi =)


Indah sekali pelajaran yang aku dapat sepanjang 8 bulan ini. Sangat personal dan tidak semua tergambar dan terungkapkan di dalam tulisan ini, tapi biarlah rasa syukur ku naikkan kepada Tuhan yang dengan caranya telah memberiku kesempatan ini. Well, now I’m ready for the next lesson =)

Friday, 2 August 2013

Dieng: Abode of God

After so many times of cancellation since last year, finally I went to Dieng with quite bad feeling and tiredness because I just came back form my tiring job duty to Sumatra two days before this trip. Though, my curiosity about Dieng killed my body need to get rest. The name "Dieng" comes from Di Hyang which means "Abode of the Gods" (wikipedia). Dieng is located in East Java, near to Wonosobo.

'Festival Culture Dieng' is my biggest reason to do this trip on that day because it just happens once a year. What is special about it? In Festival Culture Dieng, we can see the process of the "Anak Rambut Gembel" have their hair cut.

Anak Rambut Gembel (Dreadlock hair Kids) are the kids who were born and growth in Dieng area who have dreadlock hair. Their hair is not intended to be dreadlocks, but it grows naturally. Commonly, the hair were normal when the kids were just born, but when they grow older the hair changes and the kids will get a fever. There is a magic story about this phenomenon. Society believe that it will bring a bad luck for them, so the kids should have their hair cut when they are about 7 years old. There is a requirements to do that: the parents should grant all of the kids request because the hair can't be cut if the request hasn't fulfilled yet.

So, that was my mission visiting Dieng on last June, and here are my report.

 The night of the festival:


Fire camp


Lantern Festival
Fireworks




It's very cold at Dieng, I can't tolerate it to stay outside for a long time, so I and friends went to our homestay and sleep because we had to wake up about 2.a.m and trekked to Sikunir Top at 3.p.m.

Our homestay owner said that it was 9 degrees Celsius and it could reach under 0 degrees Celsius on August. Brrrr.....I think it will be easy for Dieng people go to 4-season country in winter, haha...

We're success to wake up at three, and oh my....trekked for an hour at 3 a.m was so challenging. Three of my friends reached the top faster than me...fortunately, there were many people around so I wasn't afraid.

Taraaaa....top of Sikunir Mount! with Sindoro Mount behind us..


These are the view on the way but we didn't see it for we walked at darkness before..

Telaga Cebong
Telaga Cebong

Traditional performance greeted us in the morning
This is the original fruit from Dieng, they called it Carica. They said that if we plant it outside Dieng, it will grow as Papaya. Strange, isn't it?
Carica

After the failed sunrise hunting and before we attanded the Rambut Gembel Ceremony, we visited this Telaga Warna (Coloured Lake)

Telaga Warna
We were very lucky that our homestay were passed by the procession.


Actually, I recorded it as video, but I can't publish it yet...
And theeeen....even the Slovakia ambassador for Indonesia, Stefan Rozpokal and his daughter attended this ceremony.


The ceremony was held at Arjuna Temple Complex:
This kid had had his hair cut in the ceremony


This girl hasn't had her hair cut yet



There are several place in Dieng that I haven't visited yet like the most famous one: Kawah Sikidang, and I hope the next trip to Dieng, God will let me see the Sunrise at Sikunir :)

Ujung Kulon : Row Your Boat!

.....day 1....

Not to much agenda and story in the second day at Ujung Kulon. Hunting for sunrise and canoeing at Cigenter river were the target of the day.

I don't know why, but I was never lucky seeing perfect sunrise when I was traveling out of Jakarta, and the same one happened when I was at Ujung Kulon. 


Back to homestay, took a shower and had breakfast, packed our bag and got ready for my first canoeing experience. Yuhuuu!!! Ehm, I made a video while canoeing but it still needs some cutting and I still find out how to do it, so I can't post it now.

Before canoeing, we have to picked up the canoes at Handeleum Island:



At Cigenter, we expected to meet One-horn Rhinoceros and river crocodile, but we just met a green snake in a tree :(

It was very hot and the sun bit our skin, but we still had fun.

f

Tired of canoeing and it's already lunch time, we attacked the food that has been cooked by the ladies of Ujung Kulon. Actually they live at Sumur and frequently go to Peucang Island just for cooking food for the tourists who comes there.

this pic was taken by Mba Ella :)



That was not very end of the journey, some friends did snorkeling at one spot on the way to Sumur, but I just sat on the boat because I was to lazy to change my clothes and they said the underwater view was not special so I didn't regret it.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bonus! Here are some random pictures from the previous day, hope they can give you description about Ujung Kulon. Enjoy!

Small fish near the harbor 






Scary Piggy!

Home-stay








Monday, 29 July 2013

Ujung Kulon: Where you and animals are in the same home

UJUNG KULON! is one of national park in Indonesia. It is located at the westernmost tip of Java. Honestly, I've forgotten about this trip detail because it happened in the mid of June. My bad is I didn't write right after I came back, but I'll try to grab the story in my memory store.

It needed about 8-9 hour trip by bus from Jakarta to Sumur, Banten. We continued our trip by using boat to cross the sea and it took 3 hours. Finally, we arrived at Peucang Island! Seriously, it was a fascinating view that we saw billion small fish swimming under the boat even at the beach because the water was very clear!

We put our bag at homestay, then jumped into the sea...

taken by Satria's camera

Ops, time's up! Back to homestay, changed our wet clothes, had lunch and prepared for the trekking.
Oh, there was a funny story when we had our lunch, there was a monkey suddenly entered our homestay and stole the chicken at the table. You know, the monkey that stole our food just had 1 hand and she carried her kid when stealing. smart yet annoyed monkey! At Peucang Island, the home-stay is just about 100 meters from the beach and harbor, and you will find many monkeys, pigs, and deers freely walk around you.

You can get this view in front of the home-stay

The thief

Jungle trekking is a rare experience for me, so I was so excited. I met many plants that won't be found in town. We trekked for about 3 hours and it's tiring for me..huhu

Very huge tree, isn't it?
We met this cute deer at jungle
 I always love capturing wave tossed the stone

The clock shows it's 4 pm, it meant that we had to go back to the harbor and went to a savanna at Cidaon Island to chase the Sunset and saw the One-horned Rhinoceros, Banteng (Bull) and Peacock. It might be too late to see them all, the ranger said that the Rhino and the black Banteng had entered to the forest that's prohibited for us. The Peacock didn't open their beautiful tail. If you want to see the Peacocks open their beautiful tail, you should come on August or September.

Savanna at Cidaon

Disappointed by Banteng, Peacock, and One-horned Rhinoceros, we left the savanna and walked quickly to the harbor to chase the Sunset, we're almost late, but I had taken this view on our way to savanna before.


The sun visited other side of the earth meant we had to back to our home-stay to take a bath and have dinner. It was too early to go bed, so we continued playing card at the terrace. Even, the deer got curious about what we did...


Like other beach-y trip, there's always barbequing session at night. The night became more special because our tour guide sang and played guitar beautifully. The wind touched the skin and it's very cold outside, about 12 pm we decided to met the bed for recharging our energy for the next day.

....day 2....



Wednesday, 24 July 2013

Proud To Be A Supertasker?

"Otak kita tidak didesain untuk multitasking loh" kata seorang teman ketika sedang diskusi. Pernyataan ini mengagetkan saya, karena saya pikir multitasking itu baik dan harusnya dilatih karena akan membantu kita lebih cepat mengerjakan berbagai macam pekerjaan. Untuk mengecek kebenarannya, saya konsultasi dengan Google si mesin pencari. Berikut beberapa hal yang saya temukan:

Apa sih multitasking?



Source
Multitasking adalah kemampuan untuk mengerjakan beberapa hal dalam waktu bersamaan. Namun jika kita refleksikan ke pengalaman kita sebenarnya ada 2 bentuk yang sering kita anggap sebagai multitasiking. Pertama, ketika beberapa pekerjaan kita lakukan dalam waktu yang benar-benar bersamaan, misal: memotong sayur sambil mendengarkan berita di TV. Kedua, ketika dalam selang waktu yang sangat singkat kita harus berganti-ganti mengerjakan beberapa tugas. Misal: kita harus membuat laporan bulanan, membuat proposal, dan membereskan data permintaaan atasan. Di saat tersebut kita bolak balik pindah dari 1 tugas ke tugas yang lain dalam waktu singkat.

Menurut Arthur Markman, seorang profesor bidang Psikologi di Universitas Texas, ada jenis-jenis aktivitas yang sebenarnya tidak akan terlalu masalah jika dilakukan bersamaan jika aktivitas-aktivitas tersebut sudah menjadi kebiasaan. Contohnya, ketika masih anak-anak, ketika belajar berjalan kita harus berusaha fokus menapakkan kaki satu persatu untuk bisa seimbang, namun setelah dewasa kita bisa berjalan sambil berbincang dengan teman tanpa usaha yang lebih berat. Namun demikian adapula aktivitas yang seberapa seringpun kita lakukan tetap harus mengeluarkan usaha lebih, seperti berkendara sambil menelepon.

Siapakah yang punya kemampuan multitasking?
Penelitian ilmiah mengenai kognisi manusia menyatakan bahwa atensi manusia memiliki keterbatasan. Artinya, manusia pada dasarnya tidak bisa mengerjakan beberapa hal dalam waktu bersamaan atau yang biasa kita sebut dengan multitasking. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa jika seseorang mengerjakan beberapa hal bersamaan maka akan ada kekurangan (secara kualitas) atau kesalahan dalam salah 1 atau beberapa tugasnya karena terjadi "kemacetan" di dalam pusat sistem informasi kita. Namun demikian, sesuai dengan prinsip kurva normal, pastilah ada orang-orang yang memiliki kemampuan multitasking dengan mengalami 'kekurangan' yang lebih sedikit dibanding orang normal. Orang-orang seperti ini disebut dengan Supertasker. Apakah anda salah satunya? Markman menyatakan, supertasker hanya ada sekitar 10% dari seluruh populasi. Jika Anda merasa bagian dari 10% tersebut mungkin Anda perlu mengkuti tes yang Markman buat :)

Kenapa  dan siapa orang-orang yang melakukan multitasking?
Tuntutan pekerjaan yang banyak namun waktu terbatas, kadang itu yang membuat saya sering kali merespon email sambil mendengarkan rekan kerja saya berbicara. Apakah efektif? Hmm, setelah saya ingat-ingat ternyata tidak juga, karena ada saja informasi yang tidak saya tangkap ketika rekan saya bicara, atau juga terkadang saya mengetik kata yang salah (mostly, kata yang baru saya dengar) di body email saya, atau terkadang terlupa meng-upload attachment-nya. 

Kali ini, Prof. David Sonbanmatsu dari Universitas Utah menyatakan bahwa alasan utama orang melakukan multitasking adalah karena mereka merasa memiliki kemampuan multitasking, padahal sebenarnya mereka tidak semampu yang mereka pikir. Selain itu, melakukan multitasking dapat memberikan kita dorongan secara emosional. Contoh dalam kasus saya seperti ini: saya merasa 'hebat' karena bisa melakukan beberapa hal dalam waktu bersamaan dan terkesan produktif, padahal sebaliknya saya harus memberikan waktu tambahan lagi untuk memperbaiki kesalahan saya. 

Sonbanmatsu et.al (2013) dalam penelitiannya mencoba mengaitkan perilaku multitasking ini dengan beberapa konstruk kepribadian. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa impulsivity dan sensation seeking berkorelasi positif dengan perilaku multitasking.

Apakah multitasking benar-benar menguntungkan? 
Ilmuan Amerika dalam jurnal Cyberpsychology and Behaviour, mengemukakan bahwa seringnya orang muda melakukan multitasking mempengarhi kemampuannya untuk berkonsentrasi terhadap aktivitas intelektual tunggal seperti membaca textbook. Selain itu, sering terjadinya pergantian antar tugas dalam waktu dekat memicu hormon stres dan adrenalin yang selanjutnya berkaitan dengan level stres, rasa frustasi, beban kerja, tekanan yang lebih tinggi. Belum lagi masalah sosial dan komunikasi yang bisa terimbas karena kita sibuk dengan gadget kita ketika ada teman yang sedang bercerita lalu ia merasa tidak dihargai karena kita tidak benar-benar menyimak apa yang ia katakan. 

Setelah mendapat berbagai informasi tersebut, saya percaya bahwa memang kita tidak perlu memaksakan diri untuk bisa multitasking.

“Any man who can drive safely while kissing a pretty girl is simply not giving the kiss the attention it deserves,”  Albert Einstein

Sumber: